Filosofi Jenang Ireng yang Melekat di Masyarakat Jawa

0 117

Filosofi Jenang Ireng yang Melekat di Masyarakat Jawa

Eksistensi jenang di kalangan masyarakat Jawa khususnya di wilayah Surakarta sudah melekat sejak zaman kerajaan hindu-budha dan era walisongo sampai sekarang. Jenang, makanan khas penduduk Jawa yang terbuat dari beras putih dan beras ketan, kerap hadir sebagai makanan pelengkap di berbagai acara seperti hajatan pernikahan, selamatan ibu hamil, selamatan bayi yang baru lahir, selamatan orang meninggal dan masih banyak lagi berbagai acara adat maupun keagamaan. Segala macam acara tersebut tidak pernah lepas dari kehadiran jenang dan makanan ini diyakini muncul dari kreativitas masyarakat setempat.

Jenang bukan sekedar makanan khas yang digemari oleh penduduk Jawa. Lebih dari itu, jenang ternyata memiliki filosofis dan simbol-simbol yang diyakini oleh orang Jawa. Selain sebagai rasa syukur kepada-Nya, jenang juga dijadikan simbol doa, persatuan, harapan, dan semangat masyarakat Jawa. Jenis-jenis simbol antar jenang satu dengan lainnya berbeda-beda mengingat ada beberapa jenis jenang yang terkenal di Pulau Jawa.

Salah satunya adalah jenang ireng. Kata “ireng” dalam Bahasa Jawa berarti hitam. Jenang ini terbuat dari beras ketan hitam yang dipadu dengan kuah santan segar dan wangi daun pandan. Jenang ini sering disajikan di berbagai acara ritual kegamaan dan juga selametan ibu hamil. Selain dipercaya dapat mendatangkan keberkahan, jenang ini juga dijadikan makanan pelengkap yang bagus untuk ibu hamil karena citra rasanya yang manis dan mengandung khasiat ketan hitam.

Source https://www.goodnewsfromindonesia.id/ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/12/19/filosofis-jenang-yang-melekat-di-masyarakat-jawa
Comments
Loading...