Filosofi Jenang dalam Pernikahan Masyarakat Banyuwangi

0 58

Filosofi Jenang dalam Pernikahan Masyarakat Banyuwangi

Jenang yang memiliki rasa manis legit, seolah menjadi makanan wajib dalam setiap acara hajatan pernikahan di Banyuwangi. Selain wajib ternyata olahan ini, memiliki makna sebagai wujud doa bagi kedua mempelai yang akan menjalani bahtera rumah tangga. Seperti yang dilakukan dalam pernikahan antara Nisa dengan Toni di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo. Keduanya meyakini, jalinan suci yang akan dijalani akan langgeng bila jenang yang terbuat dari ketan, gula jawa dan parutan kelapa ini dihidangkan kepada para tamu undangan. Biasanya jajanan jenang ini disuguhkan bersama, makanan lain seperti Jadah Ketan, Mendut Dan Nogosari.

Hal tersebut di benarkan oleh sesepuh di daerah tersebut, Hj Supiah. Jenang yang proses pembuatannyan dibutuhkan waktu sangat lama, kurang lebih 7-8 jam mempunyai simbol atau filosofi terkait pernikahan. Selain itu, jenang memiliki tekstur yang sangat lengket, itu memiliki makna doa, yang nantinya kedua calon mempelai, bisa hidup bersama, selengket jenang tersebut. Dan yang terakhir, makna dari jenang sendiri adalah perjuangan. Supiah mengatakan, selain menikah atas dasar cinta, menikah itu butuh perjuangan yang berat dalam perjalannya. 

Source https://www.timesindonesia.co.id/ https://www.timesindonesia.co.id/read/136817/20161117/121726/ini-filosofi-jenang-dalam-pernikahan-masyarakat-banyuwangi/
Comments
Loading...