Filosofi Jawa, Makna Pacul ( Cangkul ) Dalam Kehidupan Manusia

0 289
Indonesia dikenal dengan negara Agraris, artinya negara Indonesia memiliki penduduk yang mayoritas bermata pencaharaian sebagai petani. Khususnya dipulau jawa, terbentang luas hamparan sawah yang menjadi tanda bahwa di Jawa sebagian besar penduduknya adalah petani.
Hidup di masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian petani, tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya cangkul. dalam filosofi jawa, cangkul tidak hanya sekedar alat untuk mencangkul tanah, tapi lebih dari itu, cangkul memiliki makna dan filosofi yang sarat akan makna. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa orang Jawa memang terkenal memiliki filosofi tinggi karena tak jarang para sesepuh menyelipkan sebuah makna tentang kehidupan utamanya pada sebutan barang barang tertentu maupun dalam istilah jawa secara langsung. Dan kali ini wartajowo kembali membahas tentang filosofi jawa “pacul” atau cangkul.

Nama Pacul

Cangkul di jawatimuran khususnya, disebut juga dengan pacul. Pacul sendiri dalam bahasa jawa memiliki arti “ngipatake barang kang muncul”. Dalam bahasa Indonesia “ngipatake berarti membuang, barang kang muncul berarti sesuatu yang menonjol atau sesuatu yang tampak. “Ngipatake barang kang muncul” memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa sebagai manusia, hendaknya kuta harus selalu berbuat baik kepada orang lain dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata (Ngipatake barang kang muncul) seperti rasa sombong, iri, dengki, berburuk sangka pada orang lain, dan sifat sifat buruk lainnya.

Bagian bagian pacul atau cangkul

Secara umum, pacul atau cangkul terdiri dari tiga bagian, diantaranya adalah sebagai berkut:
1. pacul
2.Bawak ( Lubang tempat untuk menancapkan gagang pacul.
3. doran, yaitu gagang pacul yang terbuat dari kayu.
Masing masing dari bagian pacul tersebut memiliki filosofi dan maknanya sendiri.

Pertama, Pacul

Diatas telah dijelaskan makna pacul menurut arti bahasa, adapun penafsiran lainnya mengenai pacul adalah “Sipat Papat Sing Ora Keno Ucul”. Dalam bahasa Indonesia berarti keempat sifat yang tidak boleh lepas satu dengan lainnya karena semuanya saling berhubungan satu sama lain. Adapun sifat papat (Keempat sifat) tersebut adalah terkandung dalam Doran, Thanding, Bawak dan Landhep.

Kedua, Doran

Doran adalah gagang pacul yang biasanya terbuat dari kayu, makna doran dalam bahasa Jawa adalah “Donga marang Pengeran”, Donga dalam bahasa Indonesia artinya do’a, marang pangeran berarti kepada Tuhan yang maha Esa. Maknanya adalah, sebagai makhluk yang lemah, kita hendaknya selalu meminta dan memohon doa kepada Tuhan yang maha esa. Dimana sifat ini seperti doran pacul yang merunduk, menandakan kerendahan hati sebagai makhluk Tuhan.
Selain itu, Doran juga diartikan sebagai “Ojo Adoh Saking Pengeran”. Ojo Adoh dalam bahasa Indonesia artinya jangan jauh, saking pangeran berarti dari Tuhan yang maha esa, secara keseluruhan, ojo adih saking pangeran berarti jangan jauh dari Tuhan yang maha esa, maknanya sebagai hamba Allah SWT, kita hendaknya selalu mendekatkan diri kepada tuhan dengan menjalankan segala perintahnya (beribadah dan berbuat kebaikan) dan menjauhi segala larangan Nya.

Ketiga, Tandhing

Tandhing merupakan bantalan atau ganjalan pacul dengan joran yang terletak di mata (lubang) pacul. Fungsi dari tandhing adalah untuk “pengikat” agar oacul tidak mudah terlepas dari gagang nya (Joran). Dalam kehidupan, makna dari tandhing adalah sikap tidak mudah menyerah dan semangat dalam menjalani hidup, bagaimanapun keadaan nya selalu tegar dan tangguh.

Keempat, bawak

Kata ini memiliki arti “obahing awak “. Dalam bahasa Indonesia, obahing awak berarti gerak tubuh. Maknanya adalah dalam memperoleh rejeki, kita diharuskan bergerak dan berikhtiar kepada Allah SWT guna memenuhi kebuthan hidup. Selain itu, rezeki yang kita dapatkan juga kita gunakan untuk beribadah semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Kelima, Landhep

terakhir adalah Landhep, landhep dalam bahasa Indonesia artinya tajam. Sesuai namanya, landhep adalah bagian yang tajam pada sebuah pacul. Makna dari landhep dalam kehidupan adalah bahwa kita sebagai manusia hendaknya selalu berfikir tajam dan cerdas, dan terus diasah dengan ilmu ilmu yang bermanfaat agar bisa memberikan manfaat bagi sesama. Itulah beberapa makna filosofi pacul atau cangkul dalam kehidupan. Meskipun kini sudah jarang kita melihat petani yang mencangkul sawahnya karena tergantikan dengan traktor, namun filosofi pacul tak akan tergantikan begitu saja.
Source http://wartajowo.blogspot.com http://wartajowo.blogspot.com/2018/08/filosofi-jaw
Comments
Loading...