Filosofi Gula Jawa di Balik Tradisi Minum Teh

0 205

Orang Jawa memang tidak terlepas dengan gula. Dalam budaya Jawa kerap melagukan tembang dhandhanggula. Dhandhanggula secara etimologis dapat diberi makna demikian. Dhandhanggula: dhandhang = hitam gula = legi atau manis, melambangkan seseorang telah menemukan gula hitam atau manisnya madu kehidupan sebagai suami istri. Dhandhanggula yang berasal dari kata dhandhang dan gula yang berarti pengharapan akan yang manis.

Dalam budaya Jawa Lebah memiliki makna filosofi yang hampir dekat dengan gula. Di karenakan Madu dihasilkan oleh lebah. Dalam masyarakat Jawa di kenal berbagai macam gula yang berkembang dan dipakai, karena hampir semua minuman yang mereka konsumsi menggunakan gula Misalnya kunir asem, beras kencur, secang, es degan, es kopyor, sekoteng, dan bajigur. Salah satu gula yang di gunakan untuk membuat teh manis dikenal merupakan Gula batu atau yang lebih di kenal dengan gula pasir, yang dikristalkan.

Masyarakat Jawa selalu menyelenggarakan pesta yang dikemas dengan adat istiadat budaya. Tata upacara adat manten tebu menganggap tebu sebagai bagian dari kosmos alam memiliki energi yin yang, laki-laki perempuan. Oleh karena itu biar tebu yang ditanam subur dan menghasilkan kesejahteraan dilakukan pengawinan lambang tebu jantan dan betina. Biasanya dilakukan dengan sarana wayang kulit. Tujuan lain untuk mengusir segala gangguan, maupun keangkaramurkaan yang ada di dalam pabrik sehingga proses penggilingan tebu dapat berjalan lancar dan selamat baik karyawan, pekerja maupun hasilnya.(Jurnal Purwadi, FBS, UNY).

Hampir Semua pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur berbahan baku tebu. Dalam adat istiadat Jawa, tebu merupakan salah satu bahan makanan yang memilki fungsi vital. Tebu menjadi bahan dalam upacara pengantin Jawa. Tebu Jawa adalah antebing kalbu. Sepasang tebu wulung tebu yang berwarna ungu melambangkan mantabnya kalbu, pasangan baru itu akan membina keluarga dengan sepenuh hati, dengan segala tekad dan pikiran bijak, akan selalu mempertahankan kehidupan keluarga. Cengkir gadhing-kelapa kecil yang berwarna kuning melambangkan kencang-kuatnya pikiran baik, artinya pasangan itu saling mencintai dengan sungguh-sungguh dan akan saling memelihara. Berbagai macam dedaunan segar seperti: beringin, majakara, alang-alang, dhadhap serep, diharapkan supaya pasangan tersebut tumbuh dengan kuat dalam kehidupan berkeluarga dan selalu berada dalam keadaan selamat (Adjid & Tessa, 2002: 2).

Seperti yang sudah di jelaskan di atas bahwa gula yang merupakan salah satu bahan terpenting dalam pembuatan teh manis memilki begitu banyak filosofi dalam kebudayaan dan teradisi Jawa. Sehingga jika diinterpretasikan teh manis merupakan sebuah perpaduan antara budaya global yang berasal dari budaya minum teh eropa pada masa kolonilal, sedangkan gula merupakan asli dari nusantara yang, kebiasaan minum teh manis dapat dikatakan sebagai sebuah akulturasi budaya yang di adopsi sampai menjadi sebuah ciri masyarakat Jawa pada umumnya.

Source https://kumparan.com https://kumparan.com/potongan-nostalgia/filosofi-gula-jawa-di-balik-tradisi-minum-teh
Comments
Loading...