Filosofi Gebyok Jawa

0 97

Pada kesempatan kali ini saya mencoba mengupas pengertian, makna, dan nilai dari sebuah gebyok itu sendiri dari sisi etik dan estetik, dan dari singkat sejarahnya hingga masih bertahan sampai saat ini Gebyok dengan Ukirannya.  Seorang filsuf asal Rusia Leo Tolstoymengatakan “Seni itu bukan kerajinan, melainkan perwujudan perasaan dan pengalaman seniman sedangkan kerajinan perulangan kemahiran yang turun temurun”. Kerajinan tidak mencerminkan perasaan seniman, melainkan mencerminkan rajin- sregrep– dari pembuatnya tersebut. Oleh karena itu Gebyok bukan hanya kerajinan melainkan mempunyai makna.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, pemimpin Jepara pada abad ke 16 gebyok telah diciptakan dan menjadi masterpice. Gebyok mencerminkan pemikiran dan perasaan estetik maupun etik. Gebyok bukan semata-mata bentuk yang tidak ada artinya. Gebyok menunjuk pada kebijakan manusia.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, gebyok yang sudah berkembang adalah rumah dari kayu yang dipenuhi oleh kerajinan ukir. Gebyok diciptakan untuk meraih tujan praktis, etis, dan estetik. Sebagai kebutuhan praktis yaitu gebyok sebagai rumah yang layak, walaupun penuh ukiran tetapi tidak meninggalkan kekuatan sebagai penyangga rumah. Dan rumah ini bukan rumah biasa melainkan rumah yang terhormat. Betapa tidak, untuk membuat gebyok sendiri diperlukan bahan kayu pilihan, tenaga ahli yang cukup handal, serta membutuhkan waktu yang cukup.

Gebyok juga punya nilai etis karena gebyok memiliki pesan spiritual bagi penghuninya. Ukiran dalam gebyok (SP Gustami, 2008) menceritakan tujuan hidup manusia –sangkan paraning dumadi-: keharmonisan, kesejahteraan dan kedamaian. Keharmonisan desain gebyok memperlihatkan pentingnya keharmonisan hidup dengan alam. Gebyok juga tanda tentang jalan ke surga, naik turunnya roh nenek moyang. Swastika adalah simbol harmoni dan keseimbangan hidup. Bung bambu adalah simbol regenerasi, kesuburan, dan keberlanjutan hidup. Kala makara adalah simbol cinta antara ibu dan anak.

Gebyok hingga kini menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang tidak lekang oleh zaman. Gebyok penuh metafor dan simbol pesan tentang kebijakan hidup, tentang kesejahteraan hidup. Sejahtera bukan di dunia saja melainkan di akhirat.

Gebyok dahulu pernah menjadi simbol kekayaan di kudus. Gebyok banyak dipakai di rumah Kudus sebelum tahun 1810 M, menjadi simbol kejayaan dan kekayaan pemiliknya. Lingkungan Kudus Kulon diciptakan sebagai tempat khusus rumah tradisional kudus.

Tumbuhnya kesadaran dan kebanggaan akan warisan budaya daerah, ikut serta menciptakan kegairahan dalam memelihara dan mengembangkan budaya gebyok. Kini gebyok banyak disukai di seluruh Indonesia bahkan di dunia.

Sebelumnya, seni ukir kudus didominasi oleh bunga teratai. Hal ini bisa dimengerti karena pada saat itu pada zaman dahulu, agama mayoritas warga Kudus adalah agama Hindu. Sunan Kudus, penyebar agama Islam tanah Jawa, memperkenalkan ukiran dari bunga melati. Bunga melati berukuran kecil, putih dan wangi. Arti dari melati sebagai perlambang bahwa penganut agama Islam pada waktu itu berjumlah kecil, namun bisa memberikan wewangian bagi sekeliling. Melati dalam gebyok dibikin tersambung satu sama lain, dan juga menyatu dengan komponen yang lain. Makna simbolik dari  kedekatan ini adalah umat Islam dan umat dari agama lain sebaiknya bersatu membangun kedamaian, walaupun berbeda agama dan pendapat.

Ukir kayu pada gebyok membutuhkan kemahiran tingkat tinggi. Sampai sekarang kemahiran ini tidak pudar. Pengrajin gebyok banyak ditemukan di daerah Jepara dan Kudus. Darimanakah mereka membangun kemahiran ukir ini?

Asal Mula Kemahiran / Keahlian Mengukir

Kudus sekarang lebih dikenal sebagai kota rokok, sedangkan Jepara sebagai kota ukir. Jauh sebelum Jepara terkenal sebagai kota ukir, kota Kudus justru terlebih dahulu terkenal sebagai pusat ukir. Ukiran diperkenalkan kepada masyarakat Kudus saat imigran terkenal dari kota Yunan – Tiongkok The Ling Sing, datang di abad ke 15. The Ling Sing datang ke Kudus tidak hanya menyebarkan agama Islam  tetapi juga mengajarkan seni ukir kayu. Ukirannya dikenal dengan sebutan Sung Ging, yang terkenal kehalusannya serta adikarya yang sungguh menakjubkan.

The Ling Sing kemudian dikenal sebagai mubaligh (penyebar Islam) yang dikenal dengan nama Kiai Telingsing.  Nama tersebut kini diabadikan menjadi nama jalan besar di Kota Kudus. Di Kudus juga terdapat kampung yang bernama Sunggingan, diperkirakan dari sebutan Kiai Telingsing.

Dari abad ke 16 sampai abad 18 pengrajin ukir kayu Kudus menerima berbagai pesanan untuk membangun rumah kayu. Bahan utamanya kayu jati dengan kualitas terbaik yang disupplai dari hutan  Blora, Tuban, dan Bojonegoro. Pada abad ke 19 kayu jati dengan kualitas terbaik sudah semakin sulit, sehingga menyurutkan minat mereka untuk mengembangkan keahliannya.

Kemahiran ukir yang masih bertahan hingga sekarang justru berada di Jepara, kota tetangga Kudus. Kemahiran ukir Jepara sangat terkenal dan bertahan hingga sekarang. Sentra pembuat gebyok pun terletak di kota Jepara, yang berdekatan dengan kabupaten Kudus.

Meskipun demikian tidak berarti Jepara melanjutkan tradisi Kudus. Jepara juga punya tradisi ukir yang tua. Kalau guru ukir Kudus adalah Kiai The Ling Sing, guru ukir warga Jepara adalah Tji Wie Gwanatau Sun Ging Badar Duwung.  Salah satu karya Tji Wie Gwan dapat dijumpai pada ornamen Masjid di Mantingan yang dibangun pada tahun 1559.  Kemudian Sunging Badar Duwung ini mengajarkan kerajinan ukir pada kayu pada warga Jepara, dan kemahiran itu dipertahankan secara turun temurun hingga sekarang.

Source https://lapakgebyok.com https://lapakgebyok.com/blog/filosofi-gebyok
Comments
Loading...