Filosofi dan Makna Nasi Tumpeng yang Dilarung dalam Tradisi Sedekah Laut

0 114

Filosofi dan Makna Nasi Tumpeng yang Dilarung dalam Tradisi Sedekah Laut

Dalam tradisi sedekah laut ada beberapa makanan yang hadir terutama nasi tumpeng. Lantas apa ya makna makanan yang akhirnya dilarung ke laut ini? Tradisi sedekah laut tengah menjadi sorotan lantaran gelaran di Bantul baru saja dibubarkan paksa. Ternyata sedekah laut adalah tradisi yang sudah digelar secara turun temurun di beberapa daerah pesisir di Jawa. Di beberapa daerah, sedekah laut digelar tidak bersamaan. Ada yang digelar untuk menyambut tahun baru Islam, ada juga yang menggelar sebagai ungkapan rasa syukur.

Acara yang kerap dilakukan masyarakat Bantul, Jepara, Pacitan, Trenggalek, Cilacap hingga Sidoarjo ini hampir selalu melarung atau menghanyutkan nasi tumpeng ke laut atau sungai. Bukan sekadar makanan semata, nasi tumpeng ini ternyata punya makna. Pada adat Jawa, nasi tumpeng adalah sajian spesial yang biasa hadir dalam acara syukuran. Nasi tumpeng yang tersaji istimewa juga dilengkapi dengan aneka lauk pauk. Nasi tumpeng yang biasa dilarung dalam acara sedekah laut memiliki ukuran yang beragam namun tak jarang ukurannya sangat besar. Seperti tumpeng raksasa setinggi lima meter yang dilarung di laut Trenggalek. Nasi tumpeng dan lauk pauk ini diyakini memiliki makna agar manusia bisa menjalani hidup dengan bijaksana. Tumpeng juga melambangkan kebersamaan dan keakraban masyarakat.

Bentuk dan isian nasi tumpeng juga melambangkan harapan, kesejahteraan dan kemakmuran. Nasi yang dibuat bentuk kerucut adalah lambang gunung. Sementara lauk pauknya terdiri dari banyak ragam mulai ayam, daging sapi, ikan hingga sayuran. Tak hanya tumpeng yang dilarung ke laut, masyarakat juga membuat aneka makanan yang bisa disantap bersama-sama. Ada juga berbagai hasil bumi yang disusun dalam sebuah gunungan sayur dan buah, nantinya ini jadi serbuan masyarakat. Selain nasi tumpeng, ada juga makanan yang rutin hadir dalam acara sedekah laut. Misalnya seperti di Bantul yang menyajikan ayam suwir, lalapan dan nasi gurih. 

Prosesi di Bantul ini menyajikan nasi, ayam dan lalapan menggunakan sebuah wadah pincuk. Ada juga ikan asap yang diolah dari ikan hasil tangkapan nelayan sekitar. Kebanyakan makanan ini diolah secara gotong-royong oleh masyarakat. Momen ini sebenarnya bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang sudah didapat masyarakat. Sayangnya banyak yang menganggap tradisi ini sebagai penyimpangan nilai agama. Padahal kalau dilihat dari sisi tradisi, banyak makna keakraban yang tersirat di dalamnya.

Source https://food.detik.com/ https://food.detik.com/info-kuliner/d-4260632/ini-filosofi-dan-makna-nasi-tumpeng-yang-dilarung-dalam-tradisi-sedekah-laut
Comments
Loading...