Filosofi Dalam pada Selembar Kain Sarung

0 290

Filosofi Dalam pada Selembar Kain Sarung

Di daerah yang berbasis NU, pria mengenakan sarung merupakan pemandangan umum. Bukan hanya saat acara resmi, melainkan juga acara santai. Mulai salat di masjid hingga meronda di pos kamling, sarung tak pernah dilepas. Sebab, sarung multifungsi.

Apalagi jika kita berkunjung ke beberapa pesantren di sepanjang Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sarungan ibarat ‘pakaian adat’ dan identitas kebanggaan.

Namun, seperti ditulis di Beritatagar.id, sebenarnya tak hanya di lingkungan NU dan pesantren, masyarakat Indonesia pun sebagian besar akrab mengenakan sarung sebagai busana sehari-hari bukan hanya untuk beribadah.

Bahkan, sarung di luar kain sarung orang NU seperti kain sarung adat banyak digunakan di daerah-daerah luar Jawa seperti Bali, Sulawesi, Palembang, Padang, dan lainnya.

Tentu dalam bentuk sarung yang berbeda baik corak maupun desain. Di hampir setiap daerah memiliki kain sarung khas masing-masing.

Orang NU sendiri sangat akrab dengan kain sarung bahkan sudah identik dengan kain yang banyak diproduksi di Jatem dan Jatim. Kain sarung juga seperti sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Itu artinya, sarung penting untuk dilestarikan. Jangan sampai tergeser oleh pakaian keagamaan dari budaya timur tengah seperti gamis atau jubah dan bahkan celana cingkrang yang akhir-akhir ini mulai banyak dipakai oleh generasi Islam.

Sebenarnya tidak ada yang buruk dari pakaian-pakaian itu. Toh itu hanya pakaian, hanya simbol dan ornamen lahir manusia. Yang lebih penting dari itu adalah pemaknaannya.

Namun demikian, kain sarung juga bukan sesuatu hal yang buruk semisal lantas perlu dibidahkan karena Rasulullah SAW tidak pernah memakai sarung.

Kita hanya menjaga kekayaan tradisi yang memberikan nilai khas tersendiri. Supaya identitas sebagai bangsa Indonesia yang mempresentasikan Islam Nusantara tidak luntur begitu saja.

Ya, kain sarung dan Islam Nusantara adalah bak dua variabel yang saling melengkapi. Mereka berkelindan mempromosikan keislaman yang menghargai tradisi dan ramah bak karakteristik orang desa.

Seperti kata Gus Dur bahwa Islam datang ke Indonesia bukan untuk mengubah budaya leluhur jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.

Sarung itu tanpa karet, atau atribut resleting dan kancing. Kain sarung bentuknya sangat sederhana. Namun corak kain sarung sangat beragam dan detailnya apik.

Seperti seharusnya pemikiran dalam bersosialisasi di tengah masyarakat yang kompleks seperti corak sarung. Hanya perlu berbuat baik dengan memberi manfaat kepada sesama.

Digambarkan dengan tidak adanya atribut kancing dan ritsleting yang mengekang pergerakan badan. Memestinya bersikap fleksibel, tidak kaku dalam bergaul.

Kemudian adanya ruang ketika kain sarung dipakai adalah sebuah pengibaratan untuk menerima dengan lapang apa yang menjadi permasalahan umat untuk dirasai bersama. Gulungan kain diperut mengisyaratkan supaya tetap kuat menjaga silaturahmi antar sesama.

Filosofi sarung yang penuh makna itu bisa dijadikan kontemplasi akan kehidupan sosial yang makin hari makin gersang oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek.

Dari sebuah kain bahkan bisa belajar akan pentingnya menjaga silaturahmi antarsesama dengan sikap fleksibel. Sehingga memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Dengan penyiratan pesan bahwa mungkin kain sarung tidak semahal permata, namun di balik kain sarung tersimpan kekayaan Nusantara. Semoga tidak sampai lekang oleh zaman.

Source http://www.timurjawa.com http://www.timurjawa.com/2018/06/14/filosofi-dalam-pada-selembar-kain-sarung/
Comments
Loading...