Filosofi Blangkon Bagi Orang Jawa

0 322

Filosofi Blangkon Bagi Orang Jawa

Blangkon memang tidak identik dengan Jogja saja. Di Surakarta juga ada meski terdapat perbedaan modelnya. Blangkon merupakan bentuk praktis dari iket kepala kaum pria, bagian tak terpisahkan dari pakaian atau identitas tradisional Jawa. Yang membedakan antara Blangkon Solo dengan Jogjakarta ialah :

-Blangkon Jogja dan Surakarta ini yang paling kelihatan adalah mondholannya,

-Perbedaannya kalau Blangkon Jogja mendholannya berbentuk bulat seperti onde-onde, sedangkan Blangkon Surakarta lebih ke gepeng.

Bentuk Blangkon juga memiliki filosofi dan cerita yang melatarbelanginya sendiri-sendiri yaitu :

1.Blangkon gaya Jogja yang mendholannya bulat itu pun ada riwayatnya, bermula oleh kebiasaan pemuda Jogja pada zaman dulu yang suka memelihara rambut panjang dan diikat ke atas atau digelung. Karena bagi orang Jawa rambut, wajah ataupun kepala adalah mahkota.

Pada umumnya, jika diterjemahkan, filosofi Blangkon gaya ini adalah, masyarakat Jawa pandai menyimpan rahasia dan tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri. Dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kehati-hatian, sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang Jawa.

2.Sedangkan Blangkon gaya Jogja juga menyimpan makna jika orang Jawa senantiasa berpikir untuk berbuat yang terbaik demi sesama, meski harus mengorbankan dirinya sendiri. Adapun wiron atau wiru yang berjumlah 17 lipatan melambangkan jumlah rakaat sholat dalam satu hari.

3.Blangkon gaya Surakarta yang mondholan-nya berbentuk gepeng,makna filosofisnya Blangkon ini, untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang yang harus melekat erat. Blangkon adalah simbol pertemuan antara Jagad Alit atau mikrokosmos dengan Jagad Gedhe atau makrokosmos.

Blangkon adalah sebuah wujud pengendalian diri dengan menampakkan bagian depan Blangkon yang diikat rapi. Maka bila emosi sudah tak tertahankan dan meledak maka lelaki Jawa harus mengurai mondolan di blangkonnya,membiarkan rambut panjangnya tergerai. Sehingga semua yang ada di Jawa terikat dengan sebuah aturan yang beraku.

Source Filosofi Blangkon Bagi Orang Jawa akarasa
Comments
Loading...