Filosofi Barong Dalam Adat Pernikahan Masyarakat Kemiren, Banyuwangi

0 92

Filosofi Barong Dalam Adat Pernikahan Masyarakat Kemiren, Banyuwangi

Dalam tradisi pernikahan masyarakat adat Using, Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, pertunjukan arakan barong seringkali digunakan untuk melengkapi iring-iringan pasangan pengantin menuju rumah. Sebab barong mengajarkan filosofi membangun rumah tangga yang bahagia.

Setiap warna hingga desain kelengkapan barong memiliki makna filosofis. Barong itu warnanya merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Merah artinya berani. Putih mengendalikan hawa nafsu agar bersih hatinya. Hijau seorang petani di Desa kemiren. Kuning, bila kawin jangan lagi-lagi (selingkuh) dan hitam adalah kelanggengan.

Barong yang memiliki sayap dan bermulut lebar bukan menunjukan rasa lapar atau serakah, melainkan dituntut mandiri mencari nafkah. Diberi sayap laki-laki dan perempuan, silakan jalan ke mana yang penting tidak kelaparan.

Selain itu, barong juga memiliki kumis yang bermakna bila ditanya oleh seseorang, tidak boleh plengas-plengos (cuek). Kemudian sungut barong bermakna dalam berumah tangga, saat menerima tamu dari manapun tidak boleh mbrengut (cemberut). Di atas ada kelingnya warna kuning, artinya tidak boleh iri dengki dengan tetangga bilamana bisa beli suatu apapun, merasalah bahagia.

Dari semua itu, ada bagian dari barong yang menggambarkan kehidupan mayarakat agraris. Keling garuda yang menghadap ke belakang, mengajarkan agar selalu memikirkan keberlangsungan hidup keturunan. Ibarat seperti kalau punya sawah jangan dihabis-habiskan, pemain barong di belakang sedang mengintip. Jadi Kalau kau habis-habiskan itu anak cucumu di belakang makan apa.

Terakhir, ada slebrak berwarna putih di bagian bawah barong sebagai simbol persatuan dan jalinan silaturahmi. Anak, cucu, mantu, canggah dikumpul jadi satu, menjadi slebrak yang putih dibawah. Bersatulah kamu semua, bercerai akan runtuh. Jadi hatinya harus putih kayak slebrak.

Dalam iringan pengantin yang menanggap barong, pasangan suami-istri akan diantar oleh rombongan kurang lebih sepanjang 200 meter. Pada bagian rombongan depan, dipimpin oleh macan-macanan, pitik-pitikan, barong, dua anak Laki-laki dan perempuan yang masing-masing menunggangi kuda. Ada juga yang membawa serangkaian perlengkapan alat dapur baru kemudian diikuti dua pasangan pengantin yang diarak di atas keranda kuda.

Source https://banyuwangi.merdeka.com/ https://banyuwangi.merdeka.com/seni-budaya/filosofi-barong-dalam-adat-pernikahan-masyarakat-kemiren-170313q.html
Comments
Loading...