Filosofi Baju Surjan Jogja

0 770

Filosofi Baju Surjan Jogja

Baju surjan merupakan jenis pakaian atau baju bukan sekadar untuk fashion dan menutupi anggota tubuh supaya tidak kedinginan dan kepanasan serta untuk kepantasan saja, namun di dalamnya memang terkandung makna filosofi yang dalam. Pakaian takwa ini di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta hanya diperkenankan dipakai oleh raja (sultan) dan para pangeran putra raja saja.

Selain itu, ada pula pakaian takwa yang dikhususkan untuk putri yang biasanya dikenakan oleh abdi dalem putri, para penabuh gamelan (wiyaga), dan para sinden serta abdi keparak sesuai dengan perintah dan tatacara yang diperkenankan oleh keraton. Baju takwa untuk putri ini berwarna hitam dan sering disebut sebagai “ageman janggan”.

Ageman janggan memiliki warna dasar hitam, warna hitam adalah simbol ketegasan, kesederhanaan, dan kedalaman. Yakni sifat kewanitaan yang suci dan bertakwa. Sedangkan janggan artinya bunga tumbuhan gadhung atau kembang gadhung. Simbol tersebut hendak melukiskan keindahan dan kesucian kaum perempuan karaton dan perempuan perempuan jawa pada umumnya.

Sedangkan pakaian takwa untuk para keturunan, kadang, saudara, prepat (pengiring), juga abdi terdekat dan punakawan disebut dengan Pengageman PRANAKAN. Pengageman pranakan adalah surjan yang mirip dengan kaos berkerah dalam hal cara mengenakannya. Dinamakan pranakan karena ketika mengenakannya, seseorang seperti keluar dari Rahim seorang ibu. Pranakan artinya wadhah bayi atau Rahim ibu. Jadi, para abdi yang mengenakannya, layaknya seorang yang suci, murni, dan fitrah.

Pranakan juga berarti prepat, punakawan atau abdi yang dekat dengan hati. Hal ini dilukiskan dengan jenis lurik yang digunakan bergaris ¾ atau telu-papat diringkas menjadi telupat. Hal tersebut memiliki makna kewelu minangka prepat, yang berarti Rinengkuh dados kadhang ing antawisipun Abdi Dalem setunggal sanesipun, kaliyan Hingkang Sinuwun Kanjeng Sultan. Warna pakaian adalah Biru Tua, yang berarti sangat dalam seperti warna birunya laut dalam, susah diduga, tak bisa dianggap remeh dan tidak sembarangan juga mengacu kepada kedalaman dan kekhusyukan hati.

Baju Pranakan ini memiliki bentuk pada leher terdapat tiga pasang kancing berjumlah 6 buah perlambang Rukun Iman, juga disebut model belah Banten. Terdapat 5 kancing pada bagian lengan panjang kiri dan kanan. Angka 5 seperti ini lazim berkaitan dengan rukun Islam.Proses seseorang mengenakan pengageman Pranakan digambarkan seakan si pemakai masuk ke dalam rahim ibu, lubang pranakan dimana tiap manusia pernah menghuni sebelum dilahirkan. Dengan aman dan nyaman oleh dekapan ibu, bayi yang di dalam rahim secara alamiah tinggal, sandi Cinta Kasih golong-gilig. Pranakan adalah juga Pakaian untuk Penggawa Kraton dengan corak dan model sama, dimaksud adanya demokratisasi di Ngayogyakarta Hadiningrat.

Senada dengan yang telah dijelaskan KRT Jatiningrat, KRT Rinta Iswara atau biasa dipanggil dengan Romo Rinta, sejarawan dan juga sebagai wakil dari Pengageng Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam selembar surjan (baju adat jawa). Surjan merupakan sebuah pengageman takwa (libsut taqwa), sebuah pakaian rohani yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga (abad 16 M). Surjan mengacu kepada kata Arab yang terdiri dari aksara sa-ra-ja yang membentuk kata-kata Arab yang terdiri dari aksara sa-ra-ja yang membentuk kata-kata: surojan, sirojun, saraja, atau sarjan.

Kata-kata itu terkait dengan assaraju (jamak: surujan) muniru yang artinya pelita bercahaya penerangan jalan (suluk). Enam buah kancing di bagian leher mengacu kepada rukun Iman: Iman kepada Allah, Malaikat, Kitabullah, Rasulullah, Hari Kiamat, dan takdir. Dua kancing di dada kanan kiri mengacu kepada syahadatain (sekaten) atau dua kalimat syahadat. Tiga kancing bagian dada yang tertutup dan tak terlihat dari luar mengacu kepada 3 macam nafsu yang harus ditinggalkan oleh seorang hamba Allah. Yakni Nafsu bahimah (hewani), nafsu lawwamah (perut), dan nafsu syaithoniyah (setan). Kedua lengan panjangnya kanan kiri berkancing 5 buah lambang Rukun Islam dan mengacu kepada sifat teguh dan kukuh, yang tidak mudah terombang-ambing. Dahulu, yang diperkenankan mengenakan pengageman takwa ini hanya Sri Sultan dan para Pangeran Putra Dalem saja.

Menurut K.M.T. Sukarno Broto, Abdi dalem karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Baju pranakan untuk abdi warna pakaiannya Biru Tua dengan motif garis-garis, kancing baju dan lengan sama seperti surjan (pakaian takwa) maknanya yaitu mengenai ke-Islaman. Tidak semua abdi dalem mengerti makna baju takwa (pengageman takwa). Baju abdi dalem dahulu tidak diberikan oleh Karaton melainkan membuat sendiri sesuai pakem yang di berikan Karaton, namun saat ini baju abdi dalem semuanya di berikan sehingga semuanya sama.

Abdi dalem dibagi menjadi dua. Abdi dalem punokawan dan abdi dalem keprajan Abdi dalem keprajanan ini mayoritas berasal dari kalangan PNS, akademisi, profesi dan sebagainya.

Menanggapi hal tersebut Romo Rinta, mengatakan bahwa saat ini setiap sebulan sekali diadakan pendidikan kilat untuk para abdi dalem karaton. Nantinya mereka akan diberitahu makna dari pakaian (pengageman), cara menggunakannya, sejarah, filosofi, sehingga baju yang digunakan tidak hanya melekat pada tubuh mereka namun juga diresapi sebagai pengingat tingkah laku yang berbudi luhur.

Source Filosofi Baju Surjan Jogja Identitas Surjan Yogyakarta
Comments
Loading...