Filosofi Arti Roti Buaya Betawi

0 44

Filosofi Arti Roti Buaya Betawi

Roti buaya Betawi hantaran penting dalam prosesi pernikahan suku betawi. Filosofi arti sebenarnya sebagai komponen wajib seorang pria ingin menjadikan wanita pujaannya sebagai pasangan hidup. Tentu roti buaya merupakan tradisi yang tidak akan lekang dengan waktu dan tidak akan terlupakan saat seserahan pada waktu akad nikah.
Roti buaya harus disandingkan dengan beberapa hantaran lain seperti kain, baju, serta antaran lainnya. Jika dilihat dari sejarahnya roti buaya sudah berlangsung berabad silam dan sudah ada pada zaman Kolonial Belanda saat berkedudukan di Batavia. Tentu tidak sembarangan suku Betawi memilih roti buaya dengan kepercayaan mereka terhadap buaya putih yang tidak akan sembarangan pula melihatkan wujudnya pada pertemuan kali yang bercabang pada waktu itu sebagai penunggu.
Menurut adat betawi setelah akad nikah berlangsung pengantin pria harus kembali rumahnya setelah disandingkan pada malam resepsi yang duduk dipelaminan {puade} hanya pengantin wanita. Roti buaya diletakan di tempok dekat pelaminan jika ada perubahan dalam bentuk warna pada roti buaya misalnya agak hangus makan para ibu yang mengucapkan selamat kepada penganten “Penganten Prianya Berkulit Hitam” canda ibu tersebut dan seterusnya.
Yang menjadi inti makna dari roti buaya ini adalah dalam positif seperti “buaya mesjid” yang berhubungan dengan rajin ibadah.
Bukan arti buaya lain sebagai contoh “buaya darat”, “mata buaya” atau lain sebagainya. Budaya ini masih bertahan sampai sekarang pada prosesi pernikahan karena merupakan suatu simbol bagi suami-istri dimasa depan yang kuat, setia pada pasangan dan mapan dalam ekonomi. Sifat buaya sabar walaupun santai tetapi bisa secara tiba-tiba melompat dan menerkam. Maknanya suku Betawi selalu sabar jika mereka dilecehkan tentu akan melawan dan bahkan akan sulit untuk dihentikan.
Source https://plesirankotatua.blogspot.com/ https://plesirankotatua.blogspot.com/2016/09/filiosofi-arti-roti-buaya-betawi.html
Comments
Loading...