Filosofi Ageman Pranakan

0 33

Tahukah anda tentang Ageman Peranakan yang merupakan busana yang dikenakan oleh Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat?

Secara harfiah, peranakan berarti kandungan atau rahim ibu, sehingga para Abdi yang mengenakannya dipersaudarakan atau dianggap sebagai saudara yang dilahirkan dari satu ibu. Sedangkan kain yang digunakan untuk membuat ageman peranakan adalah lurik telupat yang mengandung makna kawelu minangka prepat, atau rinengkuh dados kadhang yang berarti menjadi bagian tak terpisahkan dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Adapun Ageman Peranakan terbuat dari kain lurik tenun pengkol dengan warna dasar biru tua mendekati hitam, yang bermakna kedalaman batin bagai lautan, mampu menyimpan berbagai rasa hati demi menjaga harmoni dan kenyamanan sesama, serta hanya mengadukan segala beban jiwa kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tenunnya bergaris biru muda telu (3) dan biru tua papat (4), disingkat “telupat” yang bermakna Kewulu Minangka Prepat dalam arti “direngkuh untuk menjadi saudara kandung yang mesra dan saling memahami.”
Ujung bawah Ageman Pranakan ini papak rata melambangkan kesetaraan dan kebersamaan. Kancing lehernya 3 pasang sebagaimana surjan, melambangkan rukun iman, sementara kancing di lengan panjangnya berjumlah 5, penanda rukun Islam yang harus diamalkan dengan segerak anggota badan.
Cara memakai busana pranakan ini khas, yakni dengan mengangkat kedua tangan lurus ke atas, dimasukkan ke lengan baju, lalu menyusul kepala dan seluruh badan. Ini karena “peranakan” makna asalnya adalah “rahim”, tempat di mana janin ditumbuhkan Allah menjadi anak. Maka memakai busana peranakan adalah menghayati diri sebagai seorang putra, memasuki perlindungan rahim yang kokoh, mengambil semangat berbakti kepada Ibu; ibu kandung, ibu susu, ibu guru, dan ibu pertiwi.
Source https://dejogjaku.blogspot.co.id https://dejogjaku.blogspot.co.id/2017/04/filosofi-baju-peranakan-khas-kraton.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.