Fakta Menarik Tentang Suku Sunda: Dikenal Istilah “Pamali” atau Larangan

0 95

Fakta Menarik Tentang Suku Sunda: Dikenal Istilah “Pamali” atau Larangan

Indonesia adalah bangsa majemuk yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Kekayaan tersebut menjadikan negara ini memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dari Sabang sampai Merauke suku dan budaya Indonesia tersebar.

Salah satunya ialah Suku Sunda yang merupakan kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa. Suku Sunda merupakan suku kedua terbesar di Indonesia yang mencakup wilayah provinsi Jawa Barat, Jakarta, Banten dan Lampung.

Tidak begitu heran jika orang-orang sunda lebih banyak dijumpai sekalipun di perantauan. Jumlah populasinya menginjak 34 juta jiwa pada tahun 2003 dapat diartikan bahwa suku ini mendominasi wilayah Indonesia.

Begitu banyak nilai-nilai adat yang diwariskan nenek moyang. Termasuk adat istiadat yang akhirnya menjadi sebuah ‘kebiasaan’ di suatu daerah. Suku Sunda memiliki ragam budaya yang menjadi identitas mereka. Mayoritas suku ini beragama Islam namun ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen, Hindu bahkan Sunda Wiwitan.

Suku Sunda lumayan terkenal dan banyak ciri khas yang dimiliki oleh suku Sunda ini. Jika orang mendengar istilah-istilah yang akan dijelaskan dibawah ini mereka pasti langsung bisa menebak bahwa itu dimiliki oleh Suku Sunda. Salah satunya adalah istilah pamali.

Pamali bisa diartikan sebagai pantangan dari hal-hal yang menurut tradisi tak boleh dilakukan dengan cara sengaja. Jika hal tersebut dilakukan akan menyebabkan datangnya malapetaka atau kejadian tidak baik bagi yang melanggar. Di Sunda dikenal pula kalimat ceuk kolot baheula mah (kata orang dahulu mah) yang biasa mendahului kalimat larangan.

Di sisi lain, sebagian masyarakat menggunakan kata pamali sebagai cara menakut-nakuti anak kecil. Pada zaman dahulu hal ini dilakukan supaya mereka tidak berani menentang perintah orang tua. Sebagai contoh : Ulah kaluar imah sareupna yang bermakna jangan keluar rumah saat menjelang malam atau magrib. Mitosnya berupa bisa diculik setan.

Pandangan tersebut sebenarnya juga diajarkan dalam agama Islam untuk menahan anak-anak di waktu magrib karena saat itu setan-setan berkeliaran dan anak-anak dianggap mudah untuk dirasuki. Jika sesaat malam sudah berlalu maka anak-anak baru boleh dilepas.

Masyarakat sunda dahulu pun dikenal erat memegang kewajiban dalam agama Islam khususnya. Bahwa saat magrib, anak-anak lebih baik melakukan aktivitas ibadah seperti salat magrib berjama’ah maupun baca tulis Al-Qur’an di musala.

Source https://www.romadecade.org https://www.romadecade.org/suku-sunda/#!
Comments
Loading...