budayajawa.id

“Emprak”, Kesenian Asli Rembang Yang Sudah Mulai Punah

0 52

Kesenian Emprak cukup populer di sekitar Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Kendati umurnya sudah cukup tua, kesenian ini sampai sekarang masih dianggap sebagai kesenian lokal yang tidak begitu populer di masyarakat luas.

Sejarah Emprak

Kesenian Emprak di Kabupaten Rembang sesungguhnya sudah mulai dikenal sekitar 1925-an. Tidak diketahui dengan persis tahun berapa kesenian Emprak mulai ada di Kabupaten Rembang. Menurut cerita masyarakat yang menggeluti kesenian ini, Emprak Kabupaten Rembang berbeda dengan jenis kesenian Emprak yang ada di daerah lain. Dan kesenian jenis ini, dipercaya hanya ada di Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori. Dari cerita awalnya Emprak dibawa oleh tokoh masyarakat setempat yang bernama Sahid alias Pak Kijo warga Banyudono Rembang.

Popularitas Emprak

Di Rembang perkembangan serta popularitas kesenian Emprak memang tidak terlalu baik seperti perkembangan kesenian tradisi lain. Minimnya bantuan pendanaan dari pemerintah daerah untuk melestarikan kesenian asli Rembang ini, serta pendampingan generasi penerus. Bantuan yang sudah disiapkan oleh pemerintah sudah ada namun jumlahnya sangat terbatas untuk bisa digunakan sebagai upaya mengangkat kesenian Emprak ke taraf yang lebih tinggi. Dalam setiap penyelenggaraan acara kesenian yang dilakukan Pemerintah Daerah, kesenian Emprak sering dilibatkan. Namun banya permasalahan yakni salah satunya adalah eksistensi para seniman dalam upaya mengembangkan kelompoknya.

Di Rembang, hanya ada dua kelompok kesenian Emprak, yaitu kelompok kesenian Emprak Wahyu Suko Budoyo dan Sari Asih Budoyo. Dua kelompok itulah yang selama ini berusaha melestarikan kesenian Emprak meski dengan tertatih-tatih. Agar tidak hilang digerus zaman karena kian terpinggirkan, kesenian emprak kini mulai berkreasi. Emprak sudah dimodifikasi sehingga berbentuk seperti ketoprak.

Jumlah personel yang dulunya hanya 20 orang sebagaimana jumlah aksara Jawa, kini sudah mencapai 60 orang. Secara lakon pementasan pun, tidak lagi hanya Kijo Tani dan Bajul Buntung, yang mengisahkan perjuangan sepasang suami-istri dalam membesarkan kedua anak menjadi seorang alim ulama dan perempuan yang salihah, tetapi sudah mengangkat cerita rakyat seperti kisah Panji Sering. Hanya saja, iringan shalawat yang mengiringi awal dan akhir pementasan emprak, tetap dipertahankan, sebagai warna Islam Nusantara.

Source "Emprak", Kesenian Asli Rembang Yang Sudah Mulai Punah "Emprak", Kesenian Asli Rembang Yang Sudah Mulai Punah "Emprak", Kesenian Asli Rembang Yang Sudah Mulai Punah
Comments
Loading...