Eksistensi Primbon Bagi Masyarakat Jawa

0 15

Eksistensi Primbon Bagi Masyarakat Jawa

Iyem (40) menelepon kakak tertuanya, Gimin (53) yang tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah. Warga Jati Asih Bekasi itu hendak memberikan kabar baik soal putri sulungnya yang dilamar sang pujaan hati. Tak cuma memberi kabar baik, Iyem juga bermaksud meminta hari baik buat pernikahan putrinya itu.

Dari seberang sana, sang kakak, juga mengesankan kebahagiaan. Ponakannya yang sudah dewasa akan segera menikah. Gimin pun bersedia mencarikan hari baik untuk pernikahan Sri (21). Iyem sejak berusia 16 tahun sudah merantau.

Awalnya dia merantau di Kota Bogor bersama kakak kedua (Kidi) dan ketiganya (Paino). Jalan hidup kemudian membuatnya pindah ke Bekasi. Dia menikah dengan warga Betawi asli, Toto (kini 46 tahun). Meski suaminya Betawi, Iyem tetap menggunakan hitungan Jawa dalam menentukan hari baik pernikahan putrinya.

Kidi (50) kakak kedua Iyem menjelaskan, dalam keluarganya hitungan Jawa masih dipegang teguh. Meski tidak melulu, paling tidak untuk hari pernikahan, sunatan, pindah rumah mereka masih mencari petungan hari baik. Ini berlaku juga bagi anaknya.

Kidi bercerita, empat bulan lalu, saudara dari pihak istrinya yang ada di Muara Bungo, Jambi juga meneleponnya. Saudara dari pihak Istri memintakan hari baik untuk menikahkan anaknya. Keluarga istri Kidi, sejak tahun 80-an ikut transmigrasi di Jambi.

Mereka asalnya dari Wonogiri, Jawa Tengah tetapi karena ada pembangunan Waduk Gajah Mungkur, warga di beberapa kecamatan akhirnya bedol desa transmigrasi. Sebagian besar kini tinggal di Muara Bungo, Jambi. Sebagai orang yang dituakan kadang dimintai mencari hari.

Kadang bukan saya yang nyari, tapi saya nanya sama kakak di kampung atau orang yang dituakan di kampung. Tujuannya supaya acara atau hajat yang diingin berjalan baik. Semua hitungan hari baik yang diyakini oleh keluarga Pakde bersumber dari Kitab Primbon Betaljemur Adammakna.

Orang tua Jawa dulu menggunakan petungan atau hitungan yang ada dalam kitab tersebut untuk segala keperluan hidup. Dalam Primbon, ada bulan yang dianggap baik untuk hajatan nikah yakni bulan Besar yang mengandung arti akan kaya dan mendapat kebahagiaan.

Bulan Ruwah mengandung maksud Selamat dan selalu damai. Rejeb berarti selamat serta banyak anak. Jumadilakhir artinya kaya akan harta benda. Bulan-bulan di atas sangat disarankan untuk punya gawe atau hajat.

Sedangkan bulan yang boleh dilanggar karena sesuatu hal adalah bulan Sapar walau akan kekurangan dan banyak utang. Bulan Rabiul Akhir walau sering digunjingkan dan dicaci maki. Bulan Jumadilawal walau sering tertipu, kehilangan dan banyak musuh. Selain itu bulan Sawal, kekurangan dan banyak utang.

Sedangkan bulan yang menjadi pantangan untuk menggelar hajat adalah Suro. Di bulan Suro ini konon kalau dilanggar akan mendapat kesukaran dan selalu bertengkar. Bulan Rabiul awal juga pantangan. Bulan puasa atau Ramadan juga pantangan karena akan berakibat akan mendapatkan kecelakaan. Terakhir bulan pantangan adalah Dzul Qoidah kalau dijalankan akan berakibat sering sakit dan bertengkar dengan teman.

Sebagai sebuah budaya, petungan Jawa hingga kini masih dipegang teguh sebagian orang. Namun banyak juga orang Jawa yang sudah meninggalkannya. Cap musrik, klenik, kuno sering dinisbatkan kepada mereka yang masih menggunakan primbon sebagai rujukan dalam menggapai hajat.

Pemerhati budaya Jawa, Mulyono mengatakan apa yang ditulis dalam primbon dan diyakini oleh orang Jawa memang sebatas kecenderungan. Apa yang digariskan soal hari baik dan buruk jangan diyakini seratus persen.

Menurut Mulyono, primbon yang memiliki motto moco in waskito (membaca tanda-tanda dari kejadian alam) tidak seluruhnya masih relevan di zaman sekarang. Soal bab burung Perenjak (Prinia familiaris) misalnya.

Orang dulu percaya bila burung perenjak bertengger dan bercuit di depan rumah pertanda akan datang tamu. Namun kondisi tersebut sudah tidak cocok lagi diterapkan di zaman sekarang. berkurangnya burung perenjak, rumah yang belum tentu ada pohonnya membuat ramalan itu sudah tidak bisa dijadikan sebagai rujukan. Namun semua petungan baik yang berupa anjuran dan larangan dalam Primbon digantungkan kepada masing-masing individu. Percaya atau tidak menjadi hak masing-masing.

Source https://www.merdeka.com/ https://www.merdeka.com/khas/eksistensi-primbon-bagi-masyarakat-jawa-dulu-dan-kini.html
Comments
Loading...