Eksistensi Janger Banyuwangi dari Masa ke Masa

0 188

Eksistensi Janger Banyuwangi dari Masa ke Masa

Kesenian rakyat kerap kali digunakan sebagai media untuk menyebarkan semangat juang pada masa penjajahan dulu. Teater Janger atau Darmawulan atau Jinggoan menjadi salah satu seni pertunjukkan yang cukup berpengaruh dalam perjuangan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur.

Di mana pada masa revolusi, para pejuang kemerdekaan banyak yang menyamar menjadi seniman Janger untuk mengelabui Belanda da para mata-matanya. Pertunjukan yang kini dilengkapi pentas, sound system, layar atau tirai, gamelan, tari-tarian dan lawak ini awalnya merupakan  suatu jenis teater rakyat yang disebut Ande-Ande Lumut yang memainkan lakon Andhe-Andhe Lumut.

Konon, pepolor Janger Banyuwangi ini ialah seorang pedagang sapi bernama Mbah Darji asal Dukuh Klembon, Singonegaran, Banyuwangi. Sebagai pedagang sapi, ia kerap mondar-mandir Banyuwangi-Bali yang akhirnya menarik minatnya pada kesenian teater Arja.

Ia pun berkenalan dengan seniman musik bernama Singobali yang membuahkan perpaduan antara teater Ande-Ande Lumut dengan unsur tari dan gamelan Bali yang kini disebut dengan Damarwulan Klembon atau Janger Klembon.

Pertunjukkan ini menarik perhatian rakyat hingga kemudian lahirlah grup-gruo Darmawulan di seantero Banyuwangi. Bahkan, menurut seorang pelaku kesenian Janger, Dasoeki Nur, teater ini sempat berkembang hingga melampui wilayah Banyuwangi. Pada tahun 1950-an, terdapat dua kelompok Janger yang berada di wilayah Samaan dan Klojen, kota Malang.

Keunikan Teater Janger

Ini merupaka sebuah kesenian hibrida yang menyatukan unsur Jawa dan Bali. Anda bisa melihat budaya Bali dari gameran, kostum dan gerak tari, namun cerita yang diangkat merupakan kisah rakyat Jawa. Bahasa yang digunakan bahasa Jawa Tengah, yang juga menjadi bahasa dalam Pertujukkan Ketoprak dan sesekali pelawak menggunakan bagsa Using sebagai bahasa pengantar ketika melawak.

Kini, lakon atau cerita yang dibawakan teater ini tidak melulu Ande-Ande Lumut. Beberapa lakon yang banyak dipentaskan saat ini antara lain Minakjinggo Mati, Cinde Laras, Damarulan Ngarit, Damarulan Ngenger, dan masih banyak lagi. Ada juga lakon yang diambil dari legenda rakyat setempat dan juga kisah-kisah Islami. Diperkirakan, ada sekitar 60an kelompok Janger yang masih eksis dipanggung pentas.

Source http://mahligai-indonesia.com/ http://mahligai-indonesia.com/ragam-budaya/tradisi-nusantara/eksistensi-janger-banyuwangi-dari-masa-ke-masa-6154
Comments
Loading...