“Dyah Kertawijaya” Tokoh Majapahit Waringin Pitu

0 1.131
Sekilas Riwayat

Dyah Kertawijaya adalah raja Majapahit yang memerintah tahun 1447-1451 dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakramawardhana. Menurut Pararaton, Kertawijaya adalah putra Wikramawardana dari selir dan merupakan adik tiri dari Suhita Ratu Majapahit Ke VI. Putra Wikramawardana yang lain adalah Hyang Wekasing Sukha, Bhre Tumapel, dan Suhita. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel, yaitu menggantikan kakaknya yang meninggal awal tahun 1427.

Sri maharaja Wijaya Parakrama Wardhana memiliki permaisuri bernama ratu Daha Jayawardhani dyah Jayeswari. Memiliki tiga putra yaitu Rajasa Wardhana dyah Wijayakumara atau Sang Sinagara, Girisa Wardhana dyah Suryawikrama, dan Singa Wikrama Wardhana dyah Sura Prabawa. Di tahun pertama bertahta, Sri Maharaja Wijaya Parakrama Wardhana mengeluarkan prasasti yang dikenal sebagai prasasti Waringin Pitu. Prasasti ini dikenal pula sebagai prasasti Surondakan karena ditemukan di desa Surondakan Trenggalek. Namun sesungguhnya prasasti ini dikeluarkan untuk daerah Waringin Pitu yang sekarang menjadi desa Ringin Pitu, Tulungagung. Prasasti Waringin Pitu dikeluarkan sri maharaja Wijaya Parakrama wardhana dyah Kertawijaya pada tahun saka 1369 bulan marggasira tanggal 15 Suklapaksa hari Rabu Umanis, wuku Kurantil. Dalam penanggalan masehi bertepatan dengan hari Rabu Manis, 15 Pebruari 1447M.
 
Isi pokok prasasti tersebut adalah mengenai penetapan atau pengukuhan daerah Waringin Pitu sebagai dharma perdikan kerajaan bernama Rajasakusumapura karena di daerah ini terdapat tempat pendarmaan sri paduka Parameswara Kertawardhana, ayah sri maharaja Hayam Wuruk yang wafat pada tahun 1386M. Pihak perdikan dharma Rajasakusumapura berkekuasaan mengadakan peradilan secara mandiri menggunakan hukum adat pada segala jahat yang mengganggu sepenjuru Waringin Pitu. Batas-batas dan letaknya perdikan sima ditetapkan panjang lebar. Prasasti ini menyebutkan pula larangan memasuki atau menginjak tanah suci Rajasakusumapura bagi para pegawai Katrini, yaitu Pangkur, Tawan, dan Tirip. Para pegawai pajak bea cukai baik tinggi maupun rendah dilarang bertugas melakukan segala pungutan di daerah Waringin Pitu. Bertugas sebagai penulis piagam raja ini adalah Sang Pamegat Jambi Dang Acarya Ekanata, yang putus pengetahuan tentang ilmu mantik dan bahasa sastra, merupakan bhujangga keraton yang harum namanya.
Akhir Pemerintahan

Kertawijaya wafat tahun 1451. Ia dicandikan di Kertawijayapura. Kedudukannya sebagai raja digantikan Rajasawarhana. Penyebutan Dyah Krtawijaya sebagai Brawijaya I tersebut karena raja ini memiliki nama yang berunsur Wijaya (keturunan Raden Wijaya).

Source "Dyah Kertawijaya" Tokoh Majapahit Paling Berpengaruh Dalam Pengukuhan Daerah Waringin Pitu "Dyah Kertawijaya" Tokoh Majapahit Paling Berpengaruh Dalam Pengukuhan Daerah Waringin Pitu "Dyah Kertawijaya" Tokoh Majapahit Paling Berpengaruh Dalam Pengukuhan Daerah Waringin Pitu

Leave A Reply

Your email address will not be published.