Domyak Kesenian Khas Purwakarta

0 142

Domyak Kesenian Khas Purwakarta

Kata Domyak merupakan singkatan dari Bodor yang diiringi Musik dan ngarampayak (tari). Seni Domyak Atau sebutan lain dari Buncis ini merupakan salah satu bentuk kesenian yang berkembang di beberapa daerah Purwakarta, diantaranya di Desa Pasir angin Kecamatan Darangdan Kabupaten Purwakarta. Awal munculnya seni Domyak ini merupakan sebuah acara ritual permohonan turun hujan..  Pada masa ini masyarakat setempat memiliki suatu kepercayaan untuk memohon turun hujan melalui acara tarian. Acara ini dimulai dengan arak-arakan menuju sumber mata air. Agar suasana arak-arakan tersebut labih berkesan, mereka mengiringinya dengan tetabuhan alat-alat musik yang ada diantaranya angklung, dogdog, bedug, ketuk, kecrek, dan lain-lain.
Pada perkembangan selanjutnya kariaan arak-arakan tersebut tidak dilakukan saat meminta turun hujan saja, tapi pada kegiatan lain seperti hajat bumi, pesta panen, bahkan pada hari-hari besar nasional, seperti HUT Kemerdekaan RI dan hajat sunatan/khitanan.
Penamaan Buncis yang berkembang di Purwakarta memiliki makna yang sangat sederhana. Karena lagu atau gending yang dominan adalah lagu Buncis maka secara perlahan kesenian tersebut dinamai Seni Buncis atau Buncis arak-arakan. Dominannya pola tabuh bedug dan kenong pada setiap heleran memunculkan istilah atau nama baru bagi kesenian buncis ini, seperti bunyi bedug Dur dan bunyi kenong Nong maka ada djuga yang menamakn kesenian ini adalah seni Dur Ong. Di derah Darangdan selatan, seni buncis atau Dur Ong ini disebut Seni Domyak yang artinya singkatan Bodor yang diiringi musik dan Ngarampayak.
Alat yang digunakan pada seni Domyak ini diantaranya : Angklung (15 buah), Dogdog (2 Set), Kendang (2 Set), Kecrek (1 Set), Ketuk (1 Set), Terompet (1 Set), Bedug (1 Set), dan Goong (1 Set). Serta untuk jumlah pemain Domyak berjumlah sekitar 37 Orang.
Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Domyak-Kesenian-Khas-Purwakarta/
Comments
Loading...