Doger Kontrak Subang

0 32

Doger Kontrak

Doger Kontrak merupakan kesenian rakyat Subang yang sudah mulai tumbuh kembang sebelum perang kemerdekaan (1945), bermula pada saat perusahan perkebunan The P&T Lands yang saat itu dikuasai oleh pemerintahan Belanda mengijinkan pertunjukan doger di kontrak-kontrak perkebunan yang ada di daerah Subang sebagai balas budi para buruh dan hiburan. Sebelumnya para buruh perkebunan tidak diperbolehkan atau tidak diijinkan berhubungan dengan kehidupan luar. Doger kontrak mempunyai perbedaan dengan doger pada umumnya, pada doger kontrak ada perpaduan antara tradisi (Ketuk Tilu) dan Tari Keurseus.

Doger juga merupakan sebutan bagi penari atau penyanyi perempuan yang ada dalam pertunjukan kesenian tersebut. Dalam seni hiburan rakyat lainnya di beberapa daerah di Indonesia istilah doger sama dengan ronggeng, tandhak, tlédhék,dan lain-lain. Istilah-istilah tersebut muncul dari kalangan masyarakat itu sendiri. Sebutan ronggeng, doger, dan sejenisnya diperuntukkan bagi seorang perempuan yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari dalam pertunjukannya.

Berperan untuk melayani para penonton yang bermaksud ikut menari dalam acara hiburan tersebut. Bahkan para penonton ini cukup berkuasa untuk meminta lagu atau tarian kepadanya. Konsekuensinya para pengguna jasa doger atau ronggeng harus memberi imbalan biasanya berupa uang. Siapa pun dalam hal ini adalah para penonton yang hadir dalam acara tersebut diperbolehkan untuk memilih doger/ronggeng untuk menjadi pasangan menarinya. Seperti dalam doger, ketuk tilu, dombret, ronggeng gunung, ronggeng kaler, ronggeng ketuk, dan sejenisnya. Seni doger juga serupa dengan salah satu jenis kesenian di Jawa Tengah yaitu Tayub.

Doger adalah sebutan lain untuk ronggeng, yaitu perempuan yangmemiliki kemampuan menyanyi dan juga menari. Bentuk pertunjukannya serupa dengan Ketuk Tilu. Gerakan tarinya tidak mempunyai pola khusus dan setiap penari bebas mengungkapkan gerak sesuai dengan keinginannya. Doger, biasanya menari bersama penari laki-laki.

Kesenian tersebut berkembang sekitar akhir abad ke-20 di kawasan perkebunan Kabupaten Subang. Pada masa itu, di Subang terdapat sebuah perusahaan perkebunan yang bernama Pamanoekan and Tjiasem Land (P&T Land) yang dipimpin oleh Hofland yang sangat peduli terhadap kesejahteraan para buruh. Hal ini berdampak pada meningkatnya penghasilan para buruh sehingga meningkatkan taraf hidup mereka. Para kuli kontrak mendapatkan gaji yang tinggi bila dibanding dengan upah buruh di daerah lain. Kondisi ini sangat menunjang terhadap kehidupan seni doger yang kian mendapat tempat di hati masyarakatnya karena dapat menghibur para kuli kontrak.

Kesenian doger dan ronggeng di Jawa Barat terdapat di dua wilayah, yaitu di wilayah pesisir (bagian utara) dan di pegunungan (bagian selatan). Awalnya kesenian ini dibawa oleh para seniman bebarang (keliling) yang dibawa ke daerah perkebunan. Dari persentuhan antara ronggeng dan kesenian rakyat, maka lahirlah kesenian doger. Setiap akhir pekan, ketika para kuli kontrak menerima gaji, kelompok doger menggelar pertunjukannya berbarengan dengan diselenggarakannya pasar malam. Tempat tersebut dianggap sebagai lahan subur untuk mencari uang, dan doger menjadi salah satu hiburan bagi para pekerja perkebunan.

Pertunjukannya dilakukan di arena yang cukup luas, seperti tanah lapang, halaman rumah, atau juga di pasar. Waktu pertunjukan biasanya dimulai jam 20.00 sampai larut malam, bahkan bisa sampai dini hari, tergantung permintaan para penggemarnya. Di tengah arena pertunjukan, diletakkan sebuah oncor (obor) sebagai alat penerangan yang sekaligus juga sebagai pusat orientasi pertunjukan. Selama berlangsungnya pertunjukan, acara diatur dan dipimpin oleh lurah kongsi. Ia adalah pimpinan rombongan kesenian tersebut. Kostum yang digunakan para doger adalah baju lengan panjang, rok panjang berbentuk klok tidak ketat, selendang yang dikalungkan, serta memakai kaos kaki.

Pertunjukan diawali dengan tatalu (pembuka). Tatalu adalah tanda acara akan dimulai. Setelah itu, para doger maju ke tengah arena diawali dengan adegan berjalan mengelilingi oncor. Usai berkeliling, para doger menari dengan gerakan yang sama. Setelah itu dilanjutkan dengan menari bersama penonton (laki-laki). Penari laki-laki yang diberi kesempatan pertama biasanya adalah pejabat atau tuan tanah. Para penari itu diatur oleh lurah kongsi.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Doger-kontrak/
Comments
Loading...