“Dhukutan” Tradisi Tawur Untuk Jalin Silahturahmi

0 49
Sekilas Tradisi Dhukutan

Menurut cerita yang sudah turun-temurun dari nenek moyang, waktu Selasa Kliwon pada wuku Dhukut merupakan hari pernikahan Kiai Menggung dengan Nyi Rasa Putih. Pernikahan tersebut dilakukan di petilasan punden Batur yang terletak di bawah pohon Kantil dengan ukuran besar. Guna merayakan prosesi tersebut warga sekitar selanjutnya menggelar adat Dukutan. Di mana dalam adat tersebut semua sesajen yang diberikan oleh warga disebar-sebarkan ke warga dengan cara dilempar. Sedangkan untuk air suci yang diambil dari sumber air terdekat diberikan kepada warga agar mendapatkan keberkahan dari upacara adat Dukutan.

Image result for upacara dukutan

Sebelumnya warga membawa sejumlah hasil bumi sedekahan, dan dikumpulkan di punden situs Menggung. Setelah itu sedekahan dikumpulkan menjadi satu dan selanjutnya dibagi kepada warga setempat dengan cara dilempar dan dikenal dengan tawur. Usai melakukan tawur di situs Candi Menggung, kemudian warga kembali mengarak sejumlah sesajen hasil bumi untuk ditempatkan di salah satu tanah lapang. Lokasi tersebut merupakan tempat nenek moyang melakukan upacara adat Tawur. Di lokasi tanah lapang tersebut, warga kembali melakukan Tawur sesama warga.

Prosesi Tawur, dianggap sebagai ajang silaturahmi dan kebersamaan antar warga. Sementara aksi lempar makanan dari beras jagung merupakan simbol menyucikan hati dengan membuang hal-hal keduniawian dari dalam tubuh. Serta diharapkan mendapatkan barakah dari kegiatan sedekahan. Upacara Dukut dengan cara tawuran tersebut sudah menjadi hal yang wajar. Meskipun nantinya ada warga yang terluka. Akan tetapi selesai upacara tawuran. Warga kembali berdamai dan yang luka bakal diobati.

Source "Dhukutan" Tradisi Tawur Untuk Jalin Silahturahmi "Dhukutan" Tradisi Tawur Untuk Jalin Silahturahmi

Leave A Reply

Your email address will not be published.