Dhandhanggula, Bagian I Serat Panitisastra

0 28

Dhandhanggula, Bagian I Serat Panitisastra

Dhandhanggula
(1)Makritya ring agnya narpasiwi,nular pralampitaning Sang Wusman, IngSurakarta wedhare,tata tri gora ratu, Ri sangkala witning winarti, Nitisastrainaran, winarnaeng kidung, kadi kadanging sarjawa, limaksana sasananing kang janmadi, adi yang kadriyana. (cuplikan tembang Dhandhanggula bait 1)
Yang artinya: akan mengerjakan perintah raja putra,meniru lambang-lambang sang wusman, di Surakarta terbabarnya, tahun 1735 dibuatnya, dinamakanNitisastra, tergubah dalam kidung, kawi yang karib kepada jarwa, lalu ditempat manusia luhur, itu kalau (boleh) mendapat perhatian.
Isi teks: cuplikan di atas menggambarkan pembuatan serat Panitisastra,atau asal muasalnya serat Panitisastra.
(6) Arsa tumut sarwa nora bangkit, mukanira kadya lenging gua, kewala melongo bae, mangkana ing tumuwuh, wruhing wisa sakiki-siki, wisaning wong anembah, ingYwang Maha Gung, yen carobo ing tyasira, dadya reged kethuh amatuh mulintir, nembahe tan katrimah(cuplikan tembang dhandhanggula bait 6)
       b.  Sinom
(1) Muwus arum ing pareman, wiyosing sabda minta sih, den amanis manohara, den alus den ngarih-arih, prihen lunturing kang sih, ywa kongsi rengat ing kalbu, yen sira lulungguhan, lan para pandhita sami, atanyaa sagung ujaring kang sastra. (cuplikan tembang sinom bait 1)
Artinya: Berbicara dengan sangat pelan dan halus dalam percakapan, perkataan yang keluar sangatlah manis, semanis manohara, yang halus dan menasehati secara halus, jangan sampai rasa sayangnya hilang, jangan samapi hilang dari hati, dan jika kamu sedang duduk, dengan para pendeta juga, tanyakanlah semuannya tentang ucapan-ucapan yang mengandung sastra.
(7) yeku cih naning anyata, jati kula araneki, tandhaning janma utama, ing panengran tan ngendrani, iwire tan cidreng jangji, ring antara wus tinemu, yekang aran pandhita, sastra genyang ta lirneki, tar angendhak sagung patanyan, kang prapta. (cuplikan tembang Sinom pupuh 7)
Artinya: itulah nyatanya, sebenarnya itu namanya, yang menunjukkan orang utama, dapat dilihat dari tanda-tanda yang ada, tidak pernah ingkar janji, diantarannya sudah ditemukan, yang diberi nama pendeta, sastra itu terlihat menyenangkan, tidak dapat berhenti menanyakan tentang itu, yang akan datang.
Isi teks: Dalam cuplikan di atas berisi tentang bagaimana kita bertutur kata yang baik sebagai remaja atau pemuda sebagaimana semestinya. Dan juga menggambarkan seorang pendeta yang tidak pernah mengingkari janjinya.
Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Dhandhanggula-Bagian-I-Serat-Panitisastra/
Comments
Loading...