Dewi Andong Sari Ibunda Mahapatih Gajah Mada

0 140

Dewi Andong Sari Ibunda Mahapatih Gajah Mada

Lahirnya sang prajurit cerdas nan berjiwa pemimpin ini berada di dusun Cancing desa Sendang Rejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan Jawa Timur, sebuah gunung yang masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Gunung Ratu. Di gunung tersebut dahulu seorang wanita bernama Ratu Dewi Andong Sari ibu Joko Modo (Gajah Mada) menjalani pengasingannya. Dalam cerita yang dituturkan secara turun temurun menjelaskan hikayat Ibu dewi. Ia merupakan salah satu dari beberapa istri Raja Majapahit saat itu Raden Wijaya, Raja pertama Majapahit.

Raden Wijaya memang memiliki beberapa permaisuri. Sebuah kerajaan pada umumnya akan mengangkat anak laki-laki sebagai pengganti/penerus Raja pada masa yang akan datang. Haus akan kekuasan, ingin mendapat kemashyuran, kemuliyaan, harta dan kekuasaan telah merekat kuat dalam hati beberapa orang yangkadunnyan. Hal ini lah yang membuat Dara Petak, salah satu permaisuri Raja Majapahit mengiginkan tahta kerajaan agar disandang oleh anaknya. Dara petak senantiasa melakukan investigasi kepada beberapa istri Raja Wijaya apakah diantara wanita-wanita selir Raja terdapat seorang kelahiran anak putra. setelah sekian ia menanti adanya berita, kabar duka menghujam telinga Dara petak, ia pun mendengar istri Baginda Raja Majapahit, Dewi Andong Sari mbobotDara petak kaget telak, ia merasakan kekhawatiran dan kegelisahan menyertainya dalam putaran waktu. Ia berprasangka janin perpaduan cinta kasih Raden Wijaya dengan Dewi Andong Sari di rahimnya adalah seorang laki-laki yang tentu akan mengusik alur rencana manisnya untuk memenangkan tahta kerajaan.

Bagaimanapun juga Dara Petak harus melakukan sesuatu agar posisi anaknya tidak goyah. Siasat yang didorong syahwat kekuasaan telah ia susun guna menjauhkan Dewi Andong sari dari Istana, dari pandangan paduka Raja. Strategi pun diciptakan demi kelancaran menuju tahta kerajaan. Dara Petak memporopagandakan perselingkuhan Dewi Andong Sari kepada masyarakat umum, pun kepada Raja Majapahit. Ia turut memfitnah keji kalau anak yang dikandung Dewi Andong Sari adalah anak haram dengan lelaki lain. Walau itu tidak dilakkukan Dewi Andong Sari, Dara Petak berhasil mempengaruhi Raden Wijaya, Sang Raja pun murka, dalam murkanya yang luar biasa ia mengusir Dewi Andong Sari dari wilayah Istana Kerajaan dan diasingkan pada suatu tempat. Keinginan Dara Petak untuk menyingkirkan Dewi Andong Sari tidak ada bendungannya. Ia tetap menghasut Raden Wijaya agar mengutus beberapa prajuritnya untuk membunuh Dewi Andong Sari. Tanpa berfikir panjang, diutuslah beberapa prajurit untuk membunuh Dewi Andong Sari dan prajurit utusannya menuruti titah Raja.

Para prajurit utusan raja tengah mencari jejak Dewi Andong sari dan mereka secepat angin menemukan kemana larinya sang Dewi. Permintaan sang Raja untuk membunuh Dewi Andong Sari tidak dilaksanakan. Rasa iba penuh kasihan terhadap Dewi Andong Sari adalah penyebabnya. Dewi Andong sari tidak dibunuh, melainkan dibawa dan disembunyikan ke sebuah daerah yang jauh dari istana Raja dan Dara Petak. Tempat tersebut adalah sebuah gunung dikelilingi oleh pepohonan yang sejuk dan rindang. Di tempat peristirahatan di dalam hutan yang rindang tersebut, ia menanti lahirnya sang Putra yang kelak di kenal dengan Mahapatih Gajah Mada.

Tidak berselang lama Dewi Andong Sari melahirkan seorang anak laki-laki. Seorang anak yang tampan, kuat dan sehat. Dalam mengurus jabang bayi, Dewi Andong Sari dibantu oleh seekor kucing yang bernama Kucing Condromowo dan seekor garangan (musang) yang bernama Garangan Putih. Mereka yang menemani Dewi Andong Sari menghabiskan waktunya merawat jabang bayi, merekalah sahabat Dewi Andong Sari di tempat persembunyianya. Suatu ketika, saat Dewi Andong Sari turun bukit untuk mengambiil air di telaga, Gajah mada ditinggal sendirian dan ditemani oleh dua sahabat Dewi Andong Sari. Di dalam hutan mestilah dipenuhi oleh binatang-binatang buas yang mampu menerkam apa saja saat mereka lapar. Gajah Mada dalam keadaan terancam jiwanya.

Seeokor ular besar hendak menjadikannya obat penghilang rasa lapar. Ular yang kelaparan itu merayap mendekatai tubuh Gajah Mada. Ia hendak melahap tubuh bayi mungil itu. Tapi usaha ular untuk memakan bayi Gajah Mada pun mendapat perlawanan dari Kucing condromowo dan Garangan Putih. Kedua sahabat Dewi Andong Sari mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Gajah Mada. Pertarungan hebat tidak terelakkan. Ular yang yang besar menggunakan kecepatannya dalam menyerang, Kucing Condromowo dan Garangan putih tidak kalah lincah dan cerdik. Duel ketiga hewan tersebut dimenangkan oleh sahabat Dewi Andong Sari yang berhasil mencabik-cabik tubuh ular dengan gigitan dan cakarnya yang tajam.

Source Dewi Andong Sari Ibunda Mahapatih Gajah Mada Bocah Angon
Comments
Loading...