Daun Lontar, Alat Komunukasi Jaman Dulu

0 11

Daun lontar adalah media atau sarana dalam menulis surat atau pesan kepada orang lain. Kertas belum ada, sehingga daun menjadi pilihan orang zaman dulu untuk menyampaikan pesan. Selain itu, Para raja zaman dulu, menggunakan daun lontar untuk menulis maklumat atau pengumuman kepada rakyatnya. Kegiatan komunikasi pada masa lalu sudah menggunakan bahasa tulis pada media seperti, tulang hewan, prasasti dan daun lontar. Di Indonesia kegiatan surat menyurat telah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan Hindu seperti, Pajajaran, Mataram, Majapahit, Kutai, Mataram dan Sriwijaya. Biasanya, untuk berkirim surat kepada negeri tetangganya, pihak kerajaan menggunakan media daun lontar, kulit kayu dan kulit hewan, tulang hewan, dan lempengan batu. Umumnya media komunikasi yang digunakan adalah dengan daun lontar, dengan alasan daun lontar sangat mudah didapatkan.

Mengolah Daun Lontar jadi “Kertas”

Sebelum menjadi media untuk menulis, daun lontar harus diolah dulu. Ada banyak tahapan untuk mengolahnya dan perlu waktu berbulan-bulan. Ini tahapan-tahapannya. Daun lontar dikeringkan sampai warnanya putih. Lalu, dipotong-potong dan dikupas lidinya. Potongan daun lontar direndam dengan air yang diganti setiap 3 hari sekali, sampai air rendaman bersih. Selanjutnya daun lontardirebus dalam air rempah-rempah dengan api kecil selama 6 jam.

Tujuannya untuk mengawetkan dan memberi warna. Daun lontar lalu diangkat dan dikeringkan, kemudian dilayukan. Setelah itu dipress selama 3-4 bulan, agar rata. Daun lontar yang sudah rata dijepit dengan papan. Umumnya ukuran papannya 3,5,x 30 cm. Kemudian daun lontar dipotong sesuai ukuran papan. Setelah itu diamplas bagian tepinya supaya halus. Daun lontardilubangi sebanyak 3 buah berjajar memanjang. Lalu diberi garis agar nantinya dapat “ditulisi” dengan rapi. Nah, sekarang daun lontar siap ditulisi. Katanya “kertas” daun lontar ini bisa bertahan selama 100-150 tahun.

Menulis di Daun Lontar

Menulis di daun lontar biasanya dilakukan di atas meja dengan menggunakan pengrupak. Pengrupak adalah sebuah pisau kecil. Saat menulis, pengrupak  tidak bergeser. Yang bergeser daun lontarnya. Tangan kirilah yang tugasnya  menggeser daun lontar ke kiri. Jadi seakan-akan menulis di atas daun lontar itu menggunakan dua tangan.

Setelah selesai ditulisi, goresan-goresan itu dihitamkan agar mudah dibaca. Bahan yang dipakai adalah buah kemiri yang dibakar sampai berwarna hitam. Buah kemiri ini kemudian digosok-gosokan pada daun lontar. Buah kemiri ini mengandung minyak. Nah, minyak kemiri itu akan  keluar dengan sendirinya dan masuk pada dalam goresan-goresan itu. Untuk membantu agar minyak cepat masuk ke dalam goresan, daun lontardiurut dengan ibu jari tangan. Kemudian daun lontar dilap beberapa kali hingga bersih. Sebelum disimpan, daun lontar dijemur dulu agar minyak mengering dan tidak menyebabkan berjamur.

Source http://z-wahidin.blogspot.com http://z-wahidin.blogspot.com/2015/06/alat-komunikasi-zaman-dahulu-tradisional.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.