Congklak: Permainan Tradisional dari Betawi

0 41

Permainan rakyat mirip “dakon” dari Jakarta yang dulu juga disebut “main punggah”, karena biji-biji congklak dijalankan dan dimasukkan ke dalam “gedong” (rumah) yang berupa rumah induk di kedua ujungnya. Rumah induk ini sering disebut punggah. Permainan ini sudah mengalami perubahan, dulu lubang-lubang masih terletak di tanah dan biji-bijinya terbuat dari pecahan genteng. Formasinya mencakup dua lubang induk di kedua ujung yang diapit dua deret anak lubang.

Masing-masing terdiri dari 4 anak lubang yang saling berhadapan. Sedang bijinya yang dibuat dari pecahan genteng dibentuk bulat kecil berjumlah 32 biji, 1 anak lubang berisi 4 biji. Dalam perkembangannya peralatan dibuat dari kayu dengan lubang yang lebih banyak dan biji dari sejenis keong kerang laut kecil atau batu koral kecil, yang biasanya dibeli di Pasar lkan. Peralatan yang dibuat dari kayu berbentuk perahu berukuran 75x15x10 cm dengan 5 atau 7 anak lubang. Untuk 7 anak lubang dibutuhkan 98 biji congklak. Ada juga peralatan congklak yang terbuat dari kayu berukir dengan bagian ujung berbentuk ular.

Permainan diawali dengan mengisi lubang congklak dengan biji-bijian. lsi tiap lubang tergantung dari banyaknya anak lubang congklak. Kalau ada 7 anak lubang maka setiap lubang diisi 7 biji. Setelah itu kedua pemain mulai menjalankan biji-biji congklak bersama-sama. Biji yang dijalankan adalah biji yang terletak di bagian lubang sebelah kanan ke kiri sesuai dengan arah jarum jam supaya biji terakhir bisa jatuh ke lubang induk. Langkah berikutnya terserah pada pemain, mulai dari lubang paling kiri atau dari tengah-tengah. Biji-biji tetap dijalankan sesuai dengan arah jarum jam. Di mana jatuhnya biji terakhir maka disitulah biji itu harus diambil dan dibagi ke setiap lubang. Kalau biji terakhir ada di tengah dan jatuh ke daerah lawan bisa tetap dijalankan. Tetapi kalau biji jatuh pada lubang yang kosong di daerah lawan berarti pemain harus berhenti (mati).

Kalau biji terakhir jatuh di daerahnya sendiri dan secara kebetulan lubang di depannya (lubang milik lawan) penuh dengan biji congklak maka pemain bisa nembak, artinya biji-biji itu menjadi miliknya dan dimasukkan ke gendong. Sesudah nembak pemain akan berhenti (mati). Permainan akan berhenti jika sudah tidak ada biji-biji yang dijalankan di anak lubang, semua sudah terkumpul di lubang induk. Dalam tahap selanjutnya, pemain hanya berjalan dengan biji yang dia punya. Ada kalanya ada beberapa lubang yang kosong karena biji yang dimiliki tidak cukup untuk mengisi lubang-lubang tersebut. Lawannya pun tidak akan mengisi lubang-lubang tersebut. Pemain kalah jalan berarti dalam tahap berikutnya ia tidak boleh jalan bersama-sama seperti dalam tahap pertama tadi.

Source https://jakarta.go.id/artikel/konten/763/congklak-permainan jakarta.go.id
Comments
Loading...