Cingcowong, Kesenian Asal Kuningan Yang Lahir Di Kalangan Budak Angon

0 81

Cingcowong berasal dari kata cing dan cowong yang apabila digabungkan memiliki pengertian “coba terka siapa orang ini“. Khusus di Kabupaten Kuningan, sintren Cingcowong digunakan untuk memanggil hujan. Hal ini didasari karena Kabupaten Kuningan yang merupakan daerah pertanian yang subur dan sebagai penghasil berbagai hasil bumi unggulan. Namun ketika kekeringan melanda akibat kemarau yang panjang, semua menjadi berubah. Hutan mengering, sumber air menghilang, lahan pertanian pun tak lagi subur. Inilah yang mendorong masyarakat Kuningan, khususnya di Kecamatan Luragung menggelar berbagai ritual guna meminta hujan yang diawali dengan ritual sintren.

Dari ritual ini diperoleh “wangsit”, agar masyarakat menggelar ritual Cingcowong. Ritual ini merupakan budaya masyarakat Kuningan dalam memohon pada Sang Khalik agar tanah leluhurnya kembali subur dengan datangnya hujan.

Seketika itu juga Tuhan mengabulkan doa masyarakat. Hujan pun turun dengan lebatnya, pertanian pun kembali subur, pohon-pohon kembali hijau. Ungkapan syukur pun digelar masyarakat dengan berbagai kesenian khas Kuningan, satu diantaranya dengan menggelar ritual sedekah bumi yang mengarak hasil pertanian.

Asal Tradisi Cingcowong

Sejak tahun 1981 sampai sekarang, upacara Cingcowong dikelola Nawita, cucu dari Rasih dan merupakan generasi keempat. Proses pewarisan punduh Cingcowong dilakukan secara turun temurun. Menurut Nawita, seorang punduh dipilih bukan karena kedekatan atau telah direncanakan terlebih dahulu tetapi berdasarkan panggilan batinnya atau atas dasar bisikan gaib. Kemudian calon punduh yang terpilih akan diwariskan mantera pemanggil hujan serta tata cara pemanggilan hujan. Calon punduh tersebut juga diwajibkan terlebih dahulu melakukan puasa sebelum ia dibekali dengan kemampuan menjalankan tradisi Cingcowong sebagai punduh.

Pertunjukan

Pertunjukan Cingcowong ditampilkan oleh 6 orang yang memiliki tugas masing-masing diantaranya, Punduh Ibu Nawita, beliau adalah satu-satunya punduh (kuncen) Cingcowong di Kabupaten Kuningan, Punduh merupakan pemimpin upacara Cingcowong yang dengan kemampuannya dipercaya masyarakat setempat dapat mendatangkan hujan melalui perantara boneka Cingcowong. Pembantu punduh yaitu Hj. Itit dan Nining Waskini mereka bertugas membantu punduh Nawita dalam memegang boneka cingcowong. Ibu warsinah memainkan alat musik berupa buyung, yang biasa dipakai sebagai alat penyimpan air terbuat dari tanah liat. Ibu Kaseh memainkan alat musik berupa bokor atau ceneng yang biasa dipakai sebagai vas bunga terbuat dari bahan tembaga/kuningan. Ibu Wartinah berperan sebagai Sinden.

Namun di era sekarang cingcowong disajikan secara lebih modern sehingga mengurangi esensi dan makna upacara memanggil hujan yang nampak seperti pementasan tarian tradisional saja.

Source Cingcowong, Kesenian Asal Kuningan Yang Lahir Di Kalangan Budak Angon Cingcowong, Kesenian Asal Kuningan Yang Lahir Di Kalangan Budak Angon

Leave A Reply

Your email address will not be published.