Cing Cing Goling Ucap Syukur Warga Gunungkidul di Masa Kemarau

0 87

Gempa dirasakan warga Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta hari Rabu dinihari dengan skala 5,8 SR. Namun, gempa yang terjadi di arah 112 kilometer Barat Daya Gunungkidul tersebut dinyatakan aman dan tidak berpotensi tsunami oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Berada di daerah rawan gempa dan bencana alam, masyarakat sekitar daerah Yogyakarta punya kearifan lokal untuk memohon keselamatan atau pun ucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Salah satu yang menarik adalah upacara Cing cing Goling.

Mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa di tengah musim kemarau panjang rutin dilakukan masyarakat Gunung Kidul, Jawa Tengah. Ritual ini bahkan menjadi salah satudaya tarik pariwisata selain Goa Pindul yang terkenal itu. Upacara Cing cing Goling rutin digelar setiap tahun. Kali ini, diadakan Senin di Dusun Gedangan, kawasan Gunungkidul, Yogyakarta.

Mayoritas warga berpartisipasi dengan menyumbangkan ayam untuk dimasak sebanyak 500 ekor. Selain itu, juga ditampilkan tarian khas cing cing goling yang hanya dipentaskan oleh warga setahun sekali.

Dalam sejarah lisan masyarakat setempat, tradisi ini dimulai ratusan lalu saat dua orang pasukan Majapahit, yaitu Wisangsanjaya dan Yudopati membuat bendungan untuk mengairi sawah-sawah di daerah tandus tersebut, hingga akhirnya keduanya dianggap pahlawan oleh masyarakat setempat dan mengusir perampok.

Kisah heroik mereka diabadikan dalam tarian Cing cing Goling. Pada adegan ini belasan orang berlarian menginjak-injak tanaman pertanian milik warga setempat, di lahan sekitar bendungan, untuk mengusir gerombolan penjahat.

Walaupun tanaman padi rusak diinjak-injak, tetapi petani pemilik lahan tidak marah. Mereka justru mengharapkan hal tersebut. Warga percaya, tanaman yang diinjak-injak tidak akan mati, tetapi justru bertambah subur.

Salah satu adegan, dikisahkan istri Wisangsanjaya mengangkat kembennya atau dalam bahasa Jawa disebut cingcing saat berlari.

Para gadis dan kaum ibu yang berpartisipasi menari sambil bernyanyi dan berteriak, cing goling, cing goling, cing goling sambil mengelilingi tokoh peran Wisangsanjaya dan istrinya.

Uniknya lagi, dalam acara yang telah diperingati sejak abad XV ini mengambil lokasi yang tidak pernah berubah, yakni lokasi awal yang digunakan saat Wisangsanjaya membuka lahan.

Biasanya, acara diakhiri dengan berdoa bersama lalu membagi-bagi nasi gurih, ayam ingkung atau ayam yang telah dimasak dengan bumbu kuning, serta makanan lainnya kepada seluruh peserta dan orang yang hadir di sana.

Ayam ingkung sendiri merupakan perwujudan rasa syukur melalui nazar warga. Semua warga bergembira lantaran hasil panen mereka baik. Setiap tahun jumlah ayam ingkung berbeda-beda, sesuai dengan nazar dari warga kampung.

Ayam ingkung banyak digunakan dalam upacara di tanah Jawa karena mengandung makna filosofi. Jenis ayam dipilih ayam jantan dengan kisaran umur tertentu.

Makna filosofisnya adalah dalam kata ingkung yang diambil dari kata “Ingsun” yang berarti “Aku” dan “Manekung” (berdoa penuh khidmat).

Makna lainnya juga adalah agar manusia dapat meniru sifat ayam yang saat diberi makan, tidak langsung dimakan, tetapi dipilah-pilah mana yang baik dan buruk.

Harapannya, agar dalam kehidupan manusia juga dapat memilah mana rezeki yang baik dan tidak mengambil yang jelek.

Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul, CB Supriyanto, mengatakan, “Gunungkidul memang kabupaten yang tidak bisa lepas dari sejarah Majapahit. Selain adat Cing cing Goling, beberapa lokasi juga menjadi tempat bertapa petinggi Majapahit. Di Pantai Ngobaran yang ada di Kecamatan Saptosari juga tempat pertapaan Brawijaya V hingga amoksa pati,” ujarnya dinukil Sindonews.

Tradisi ucap syukur warga Gunungkidul lainnya yang mirip dengan upacara ini adalah tradisi rasulan oleh masyarakat Kampung Pitu, Gunungkidul.

Acara tersebut merupakan upacara adat berupa doa bersama seluruh warga disertai membuat sesaji yang kemudian dibagikan sebagai bentuk sedekah dari warga Kampung Pitu kepada kerabat, keluarga dan tetangga.

Tradisi Rasulan dilakukan bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi kelancaran dalam mencari rezeki dan juga agar hasil panen berikutnya dapat bertambah. Rasulan diadakan pada musim kemarau atau musim panen kedua.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/piknik/cing-cing-goling-ucap-syukur-warga-gunungkidul-di-masa-kemarau
Comments
Loading...