Cerita Tuan Batasela dan Aki Bumi dari Kampung Kuta Ciamis

0 168

Selain cerita di atas, Kampung Kuta juga berkaitan dengan cerita Tuan Batasela dan Aki Bumi.Diceritakan bahwa bekas ibukota Galuh yang diterlantarkan selama beberapa lama tersebut menarik perhatian Raja Cirebon dan Raja Mataram.

Masing-masing raja tersebut kemudian mengirimkan utusannya untuk menyelidiki keadaan di Kampung Kuta. Raja Cirebon mengutus Aki Bumi, sedang Raja Mataram mengutus Tuan Batasela.

Sebelum ke Kuta, Raja Cirebon berpesan kepada sang utusan bahwa jika didahului oleh utusan dari Mataram, ia tidak boleh memaksa menguasai Kuta. Ia harus mengundurkan diri, tetapi tidak boleh pulang ke Cirebon dan harus terus berdiam di sekitar daerah itu sampai mati.

 

Pesan yang sama juga didapat oleh Tuan Batasela. Pergilah kedua utusan tersebut dari kerajaannya masing-masing. Tuan Batasela berjalan melalui Sungai Cijolang sampai di suatu kampung. Ia lalu beristirahat di sana selama satu malam. Jalan yang dilaluinya tersebut hingga saat ini masih sering dilalui orang untuk menyeberang dari Jawa Tengah ke Jawa Barat bernama penyebrangan “Pongpet”.

Adapun Aki Bumi, dari Cirebon langsung menuju ke Kampung Kuta dengan melalui sebuah jalan curam, yang sampai saat ini masih ada dan diberi nama “Regol”, sehingga tiba lebih dulu di Kampung Kuta.

Sesampainya di Kuta, Aki Bumi menemui para tetua kampung dan melakukan penertiban-penertiban, seperti membuat jalan ke hutan dan membuat tempat peristirahatan di pinggir situ yang disebut “Pamarakan”.

Karena telah didahului oleh utusan dari Cirebon, Tuan Batasela kemudian terus bermukim di kampung tempat ia bermalam, yang terletak di utara Kampung Kuta. Konon, utusan dari Mataram itu kekurangan makanan, lalu meminta-minta kepada masyarakat di Kampung itu, tetapi tidak ada yang mau memberi.

Keluarlah umpatan dan sumpah dari Tuan Batasela yang mengatakan bahwa, “Di kemudian hari, tidak akan ada orang yang kaya di Kampung itu.” Konon, kutukan tersebut terbukti.  Hingga saat ini rakyat di kampung tersebut tidak ada yang kaya.

Karena menderita terus, Tuan Batasela kemudian bunuh diri dengan keris. Darah yang keluar dari lukanya berwarna putih, lalu mengalir membentuk parit yang kemudian disebut “Cibodas”. Kampung itu pun diberi nama Kampung Cibodas.

Tuan Batasela dimakamkan di tengah- tengah persawahan di sebelah utara Kampung Cibodas. Makamnya masih ada hingga saat ini. Aki Bumi terus menjadi penjaga (kuncen) Kampung Kuta sampai meninggal.  Ia lalu dimakamkan bersama keluarganya di tengah-tengah Kampung, yang sekarang termasuk Kampung Margamulya. Tempat makam itu disebut “Pemakaman Aki Bumi”.

Setelah keturunan Aki Bumi tidak ada lagi, Raja Cirebon memerintahkan agar yang menjadi kuncen di Kampung Kuta berikutnya adalah orang-orang yang dipercayai oleh Aki Bumi, yaitu para leluhur kuncen Kampung Kuta saat ini.

Comments
Loading...