Cerita Kedekatan Dewi Kilisuci dan Nyi Roro Kidul

0 220

Cerita Kedekatan Dewi Kilisuci dan Nyi Roro Kidul

Kerajaan Kediri, yang juga disebut Kerajaan Panjalu adalah sebuah kerajaan yang berdiri antara tahun 1042-1222 dengan Ibu Kota Dahanapura disingkat Daha, yang terletak di tepi Sungai Brantas di Kota Kediri. Meski Dahanapura bermakna ‘kota api’, namun nama itu dimaksudkan sebagai simbol ke-maskulin-an kekuasaan yang menganut faham patriarkhi.

Nama Dahanapura terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Utunggadewa pada tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan sudah pindah ke Daha.

Pada akhir November 1042 itu, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan tahta. Pembelahan kerajaan ini terjadi akibat puteri mahkota Airlangga dari Permaisuri Sri Sanggramawijaya Dharmaprasadha Utunggadewi, yang menduduki jabatan, Rakryan Mahamantri Hino, menolak menduduki tahta.

Penolakan itu ditandai dengan memilihnya sang puteri mahkota menjadi pertapa dan Bhikkuni yang bergelar Kilisuci. Menurut, Ki Tuwu, pengamat sejarah Kediri, sebagian besar masyarakat Kediri mempercayai bahwa tempat pertapaan Dewi Kilisuci yang dikenal dengan Gua Selomangleng di Desa Pojok Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, bisa tembus ke Laut Selatan, tempat di mana Nyi Roro Kidul berada.

Menurut Ki Tuwu “Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar. Ada dua lobang besar kiri dan kanan, gua ini sendiri menghadap ke timur. Di masing-masing ruangan dihiasi relief dan di masing-masing ruangan utama ada bilik. Bilik kanan dihiasa dwarapala dan di bilik sebelah kiri ada relief patung naga raja, bilik itulah yang dipercaya sebagai pintu gaib menuju Laut Selatan”.

Tembusnya bilik tersebut hingga ke kerajaan Laut Selatan memang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. “Konon ceritanya, Dewi Kilisuci memilih sebagai pertapa dan petunjuk dari penguasa laut selatan,” tambahnya.

Meski hanya mitos, namun masyarakat Kediri dan sekitarnya tidak berani sembarangan bermain di tempat pertapaan tersebut. Selain menghormati gua pertapaan itu merupakan peninggalan sejarah yang harus tetap dilestarikan.

“Hubungan antara Dewi Kilisuci dengan penguasa Laut Selatan dalam dimensi gaib tujuannya adalah untuk menjaga harmonisasi keberlangsungan kekuasaan kerajaan Kediri atau Panjalu,” lanjut Ki Tuwu.

Sedangkan keberadaan Kerajaan Panjalu diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 yang dikeluarkan Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa adalah Sri Samarawijaya. Kerajaan Panjalu selalu dikisahkan kalah dalam perang melawan Janggala.

Baru saat di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya, Panjalu berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dalam pertempuran di Hantang sebagaimana tercatat dalam prasasti Hantang (1135), yang berbunyi Panjalu Jayati (Panjalu Yang Berkemenangan).

Pada masa Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa keemasan. Wilayah kerajaan diketahui meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Seperti diketahui, semenjak Airlangga mundur dari tahta (Lengser Kaprabon Madeg Pandhita) menjadi pertapa yang menggunakan gelar Rishi Gentayu, tahta Kerajaan Panjalu dibagi dua melalui upacara pembelahan kerajaan di Belahan oleh Mpu Bharada. Sri Mapanji Garasakan, menjadi Raja Janggala. Sri Samarawijaya menjadi Raja Panjalu. Nama Sri Samarawijaya ditemukan dalam prasasti Pamwatan (1042).

Source Cerita Kedekatan Dewi Kilisuci dan Nyi Roro Kidul Merdeka.com
Comments
Loading...