Ceng Beng, Tradisi Bersih Makam Tiongkok di Jawa Timur

0 50

Ceng Beng

Tradisi ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng (baca : Qing Ming = cerah dan cemerlang) dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam.

Beberapa kuburan Tiongkok di wilayah Jawa Timur, akan didapati hal yang unik. Di beberapa daerah seperti Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Kediri, dan Pare, terdapat sebuah kuburan masal yang disertai monumen peringatan dan plakat bertulisan nama-nama korban. Kuburan tersebut merupakan kuburan masal orang- orang Tionghoa yang menjadi korban selama periode revolusi Indonesia, 1945–1950.

Sebuah legenda asal mula Ceng Beng menceritakan tentang kaum Tionghoa yang memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur. Pada jaman dinasti Tang, implementasi hari Ceng Beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.

Yang hilang pada saat ini adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan. Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Ceng Beng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.

Konon, ada orang setelah layang-layang berkibar di langit biru, memutus talinya, mengandalkan angin mengantarnya ke tempat nan jauh, konon ini bisa menghapus penyakit dan melenyapkan bencana serta mendatangkan nasib baik bagi diri sendiri.

Source https://budaya-indonesia.org/Ceng-Beng/ https://budaya-indonesia.org/Ceng-Beng/
Comments
Loading...