Cara Pementasan Wayang Garing Dari Banten

0 206

Cara Pementasan Wayang Garing Dari Banten

Wayang Garing adalah seni pertunjukan wayang kulit yang berkembang di Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Menurut sejarah, usaha untuk menciptakan pertunjukan wayang ini sudah dirintis sejak masa Sultan Ageng Tirtayasa. Ide pembentukan seni pertunjukan Wayang Garing bertujuan untuk menceritakan tentang perjalanan sultan-sultan di Banten serta cerita tentang babad Banten, agar sejarah mengenai Banten tetap dikenang oleh masyarakat.

Cara Pementasan Wayang Garing

Di samping menyampaikan cerita wayang, narasi maupun dialog tokoh wayang, dalang juga harus mengiringi sendiri dengan “gamelan” yang dibunyikan lewat mulutnya. Salah satu bunyi gamelan yang ditirukan dengan mulut dalang itu, seperti dicontohkan Kajali, “Dung pak dung ging, dung ging…ger. Dung pak dung ging, dung ging…ger.”

Begitu tembang yang biasanya dilantunkan pesinden, juga didendangkan sang dalang. Bisa dibayangkan, betapa sibuk mulut sang dalang wayang garing ketika mementaskan sebuah lakon wayang. Dengan durasi rata-rata setiap cerita wayang sekitar empat jam, selama itu pula ia harus “mengoceh” tiada henti. Kalau lagi capek, biasanya kami setelin lagu-lagu Sunda melalui tape.

Kecuali gamelan dan pesinden, seluruh perlengkapan untuk menggelar wayang garing relatif sama dengan pertunjukan wayang kulit Jawa. Wayang terbuat dari kulit binatang. Peralatan untuk mendalang juga sama, yakni kecrek, cempala, layar, gedebok (batang pohon pisang), dan lampu.

Dari segi cerita, wayang garing juga satu pakem dengan wayang purwa. Lakon cerita itu sama-sama bersumber pada kisah-kisah dalam Mahabrata, Ramayana, dan Lokapala. Kajali mengaku hafal 120 cerita dari kisah-kisah wayang itu, tetapi ada beberapa cerita yang sering ditampilkan karena disenangi banyak penggemar.

Cerita-cerita itu sebagian cukup akrab di telinga, seperti Rama Tambak; sebagian cerita lainnya mungkin terdengar agak janggal, misalnya Pendhawa Dibagi Empat, Bangbang Sinar Matahari, Astrajingga Menggugat Warisan, Pancawala Matok Srengenge.

Beberapa cerita wayang garing itu antara lain diambil dari Babad Banten, seperti Arya Dilla. Menurut dia, cerita itu menuturkan perjalanan Pangeran Arya Mandalika, putra Sultan Maulana Yusuf (Sultan Banten II), dari ibu selir.

Cerita itu dipandang keramat sehingga sebelum mementaskan lakon tersebut, saya biasanya menyarankan agar Kajali berziarah dulu ke makam Pangeran Mandalika di Kampung Kroya. Meski bersumber dari Babad Banten, kisah Arya Dilla yang diangkat dalam cerita pewayangan sudah bercampur dengan legenda.

Source http://majalahteras.com/wayang-garing-kesenian-asli-khas-serang https://www.facebook.com/notes/wayang-nusantara-indonesian-shadow-puppets/wayang-garing-wayang-asli-dari-banten/10150763731431110/
Comments
Loading...