Cangkriman : Penggunaan Sehari-Hari

0 116

“Cangkriman” atau disebut pula “bedhekan”, bisa juga “badhean” adalah teka-teki atau tebakan. Anak kota dulu juga suka cangkriman. Kalau sore “jagongan” sama teman, pas tidak bermain dengan tenaga fisik, maka kita main tebak-tebakan.

“Burnaskopen?” Tiba-tiba bapak itu mulai dengan cangkrimannya.

“Bubur panas kokopen”, jawab (dikokop: Mulut langsung nempel bibir mangkuk, tanpa sendok). “Itu sih gampang sekali”.

Beliau ketawa keras sekali. “Hanya ngetes anak kota”, katanya. Jadilah setengah jam waktu tunggu dihabiskan untuk bernostalgia perkara “cangkriman”.

Cangkriman adalah peristiwa tutur dalam suasana santai. Perlu berfikir tetapi bukan fikiran yang berat. Unsur permainan dan hiburannya besar tetapi juga ada unsur pendidikannya sekaligus melatih kecerdasan dan kreativitas. Bisa dilakukan dimana saja dan tanpa biaya kecuali kalau sambil makan minum di warung.

Cangkriman perlu “provokator”. Ketika seorang mulai dengan cangkrimannya: “Apa bedane balapan jaran karo balapan pit?” (Pit: Sepeda). Maka gayung pun bersambut. Mulai ada yang menjawab, ada yang salah, ada juga yang betul. Kalau tidak ada yang menjawab dengan benar maka si pemberi cangkriman akan menjawab sendiri: “Kalau balapan jaran (kuda) ada penitipan sepeda tetapi kalau balapan sepeda tidak ada penitipan kuda”. Lalu yang lain gantian memberikan cangkriman. Perlu pencetus, tanpa direncanakan tetapi “gayeng”

Karena bisa menimbulkan tawa, maka para pelawak khususnya yang bernuansa Jawa, seperti Dhagelan Mataram dan Ludruk banyak menggunakan cangkriman, utamanya yang bernuansa plesetan. Kalau ditanya: “Iwak kucing karo iwak pitik enak endi?” (daging kucing dan daging ayam enak mana?). Hati-hati, kalau kita jawab enak daging ayam maka akan diteruskan dengan: “Kalau begitu kamu pernah makan daging kucing?”.

Memang ada cangkriman yang tidak terlalu santai, misalnya cangkriman yang disampaikan dalam bentuk “tembang”. Bahkan ada cangrkiman sayembara, khususnya di dunia Pedhalangan. Raden Sadewa berhasil memperistri Dewi Srengginiwati putri Raja Bhadawanganala karena mampu menebak cangkrimannya.

Demikian pula begawan Wisrawa berhasil “mbatang” (menebak) cangkriman Dewi Sukesi. Begawan Wisrawa sebenarnya ikut sayembara atasnama putranya, Prabu Danaraja dari Kerajaan Lokapala. Dari sini masalah tumbuh. Dewi Sukesi tidak mau diperistri Prabu Danaraja, Dia hanya mau diperistri orang yang berhasil menebak “cangkriman”nya. Bagaimanapun Begawan Wisrawa menolak, Dewi Sukesi tetap bersikeras.

Source http://iwanmuljono.blogspot.com http://iwanmuljono.blogspot.com/2012/02/cangkriman-1-penggunaan-sehari-hari.html
Comments
Loading...