Budaya Panji Yang Mulai Pudar Dari Peradaban

0 47

Budaya Panji Yang Mulai Pudar Dari Peradaban

Cerita Panji merupakan sebuah karya sastra Jawa periode klasik, yang tepatnya dari era Kerajaan Kadiri (1104-1222). Karya sastra ini berisi kumpulan cerita mengenai kepahlawanan dan cinta yang terpusat pada dua orang tokoh utama, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana).

Cerita tersebut memiliki beragam versi dan menyebar tidak hanya lingkup Indonesia khususnya Jawa, tapi  Kamboja, Myanmar, dan Filipina. Beberapa versi diantaranya Keong Mas, Ande-Ande Lumut,Panji Kuda Sumirang, Panji Kamboja, Panji Serat Kanda, Angron Akung, Jayakusuma, Panji Angreni Palembang, Panji Kuda-Nurawangsa, Ketek Ogleng , Ragil Kuning dan Golek Kencana. Karena terdapat banyak cerita berbeda tetapi saling berhubungan, maka cerita-cerita tersebut dimasukkan dalam satu kategori yang disebut “Lingkup Panji”.

Cerita-cerita dalam Lingkup Panji banyak digunakan dalam berbagai pertunjukan tradisional. Seperti di Jawa, Cerita Panji digunakan dalam pertunjukan Wayang Gedog. Di Bali, yang dikenal di sana sebagai “Malat”, pertunjukan Arja juga memakai lakon ini. Kisah ini juga menjadi bagian tradisi dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan meskipun kini mulai kurang dikenal oleh masyarakat. Di Thailand terdapat seni pertunjukan klasik yang disebut “Inao” yang berasal dari nama “Inu”/”Ino”. Begitu pula Kamboja yang mengenal lakon ini sebagai “Eynao”.

Kepopulerannya bukan saja dalam wujudnya sebagai karya sastra, baik lisan maupun tulis, melainkan juga dalam bentuk transformasinya, misalnya seni pertunjukan yang bertemakan cerita Panji.Dalam bentuk karya sastra, cerita Panji dikenal sebagai sastra Panji.  Dalam cerita Panji, Inu Kertapati digambarkan sebagai Arjuna yang rupawan seperti Batara Kamajaya, sebagai seorang satria yang memiliki kesaktian dan selalu unggul dalam setiap peperangan.

Ia juga tampil sebagai idaman para wanita dan pandai menundukkan hati para puteri yang dicintainya. Namun, kesetiaannya pada Candrakirana sebagai kekasih utamanya tidak pernah berubah.Candrakirana juga digambarkan seperti Sumbadra dalam Mahabharata.Kecantikannya bagai Dewi Ratih atau Dewi Supraba, bidadari tercantik di seluruh kahyangan.

Penelitian yang telah dilakukan oleh budayawan, ilmuwan Jawa sekaligus pakar sastra Jawa Kuno, Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka. Beliau menyatakan, bahwa Cerita Panji telah ditulis dalam bahasa jawa sebelum atau sekitar tahun 1400-an, tepatnya pada zaman keemasan Majapahit.

Meskipun naskah aslinya tidak diketemukan, tetapi “terjemahan” telah berhasil ditemukan dalam naskah melayu berjudul Panji Semirang. Selain itu, Cerita Panji juga telah ada pada relief di zaman Majapahit pada tahun 1413 yang berisi bagian dari Cerita Panji, seperti di Candi Penataran Blitar dan Situs Gambyok Banyakan Kediri. Pendapat ini juga sesuai dengan berita Pararaton dan Negarakertagama yang mengisahkan Raja Hayam Wuruk menari topeng (1350-1389).

Cerita Panji juga diduga berasal dari Kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja dari Zaman Kadiri. Pada bagian akhir kakawin ini diceritakan tentang kisah perkawinan Kameswara dari Madyadesa (Kadiri) dengan Putri Kirana dari Wajradrawa (Janggala).

Poerbatjaraka pernah menyebut bahwa cerita Panji merupakan suatu bentuk revolusi kesusastraan terhadap tradisi India yang berawal dari zaman keemasan Majapahit dan ditulis dalam bahasa jawa Tengahan (Poerbatjaraka, 1968:408-409).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro, adalah salah seorang yang ditunjuk Kemendikbud  untuk mengegolkan upaya tersebut. Dia mengatakan upaya itu turut disokong pemerintah Malaysia, pemerintah Kamboja, Universitas Leiden, dan Perpustakaan Nasional Inggris atau British Library.

“Kami berharap naskah Panji dijadikan Ingatan Kolektif Dunia. Keputusannya Oktober mendatang. Di sini tidak ada negara yang mengklaim Panji itu miliknya,” kata Wardiman.

Saat Indonesia dan sejumlah negara hendak menjadikan Cerita Panji sebagai Ingatan kolektif dunia, nyatanya khalayak tak banyak mengetahui kisah tersebut. Ini mendorong seorang pria bernama Dwi Cahyono membangun Museum Panji di Kabupaten Malang, Jawa Timur, selama tiga tahun terakhir. Dia mengaku telah menghabiskan Rp30 miliar untuk mewujudkan impiannya.

“Selain museum, saya ingin nanti ada tempat pertunjukan tari dan topeng Panji. Saya juga berencana

membuat desa yang menggambarkan kehidupan Majapahit, lengkap dengan rumah-rumah serta aktor yang berbusana era Majapahit,” kata Dwi.

Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (Unesco),akhirnya secara resmi mencantumkan ‘Cerita Panji’ adalah  salah satu rangkaian cerita tentang karakter kesatria Raden Panji Asmorobangun yang berlatar di Jawa Timur, resmi sebagai ‘ingatan dunia’ atau disebut ‘Memory of the World’ (MoW). Usulan penetapan ‘Cerita Panji’ sebagai MoW Unesco tersebut sudah dilakukan sejak 2016.

Cerita Panji sangat populer di Indonesia karena sarat kisah percintaan dan kepahlawanan. Karakter Panji sebagai seorang kesatria mengandung nilai luhur yang secara universal berlaku sepanjang masa, meliputi nilai keberanian, keadilan, kesabaran, dan keramahan.

Penampilan Panji mempesona para wanita karena ketampanan dan kebaikan budinya. Sebagai seorang kesatria, ia melindungi rakyatnya, memberantas kejahatan, dan membinasakan musuh-musuhnya. Dia selalu unggul dalam peperangan tanpa keinginan untuk menjajah bangsa yang dikalahkan. Nilai-nilai religius dijunjung tinggi dan ia, sebagai manusia, merasa tak berdaya di hadapan Sang Mahakuasa.

Ia sangat berbakti pada rajanya dan orang-orang tua serta selalu menurut segala perintah dan nasihatnya. Ia setia pada kekasih utamanya meskipun sering tergoda oleh puteri-puteri yang dijumpainya. Panji sering tampil sebagai seniman yang mahir menari dan bermain gamelan, tekun mempelajari karya sastra dengan melagukannya serta menguasai makna yang tersurat dan tersirat.

Nilai moral yang terkandung dalam kisah tokoh Panji antara lain loyalitas pada kerajaan, berani meraih kejayaan, berkorban demi tujuan luhur, menyejahterakan masyarakat, serta tabah dan sabar menjalani penderitaan lahir batin. Cerita Panji merefleksikan keseimbangan spiritual dan duniawi, sabar menjalani cobaan dan penderitaan sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran demi menjalankan kewajiban suci sebagai umat dari Yang Mahakuasa.

Fungsi cerita Panji dan karya sastranya secara umum dapat memberikan kesenangan bagi yang menikmatinya dan mempertebal rasa kemanusiaan, serta meningkatkan sikap dan perilaku bagi penikmatnya dalam kehidupan bermasyarakat.

“Saya minta ke Pemerintah Kota Kediri, agar anak-anak SMP dan SMA didorong mulai memviralkan cerita Panji, bisa melalui tulisan, lukisan atau kreasi kartun. Dengan begitu cerita Panji akan eksis, termasuk budaya lainnya,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan IV pada masa Presiden Soeharto ini juga.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Budaya-Panji-yang-Mulai-Pudar-dari-Peradaban/
Comments
Loading...