Budaya Cari Kutu (Petan)

0 323

Budaya Cari Kutu (Petan)

Di zaman modern ini sering kali susah ditemukan adanya orang yang sedang asik berbicara dan menghabiskan waktu bersama  tanpa terlepas dari gadgetnya. Namun, masyarakat dulu dapat melakukannya dengan asik tanpa ada batasan satu sama lain.

Mereka berbincang-berbincang sambil mencari kutu dirambut. Mencari kutu atau dalam bahasa Jawa biasa di sebut “Petan” merupakan salah satu budaya masyarakat pribumi pada zaman dahulu khususnya kaum hawa. Aktifitas petan ini bisa dikatakan menyenangkan, mereka para ibu-ibu bisa bertahan petan berjam-jam sambil “klethas-klethus mlithesi kor” dan “lingso” (kor adalah anak kutu sedangkan lingso adalah telur kutu).

Masyarakat pada saat itu masih jarang yang menggunakan shampo mereka hanya menggunakan “lempung” sejenis tanah liat yang lembut untuk mencuci rambut,  jadi kutu rambut seperti wabah menular dari rambut ke rambut yang membuat gatal.

Untuk mengatasi masalah kutu rambut masyarakat di Pedesaan Jawa khususnya melakukan tradisi mencari kutu atau petanan. Biasanya mereka melakukan ini pada saat waktu senggang seperti setelah memasak atau membereskan pekerjaan rumah.

Petan bukan hanya sekedar tradisi mencari kutu tetapi juga merupakan interaksi sosial antara seseorang dengan tetangganya. Interaksi sosial melalui kegiatan petanan biasanya dibumbui dengan beberapa perbincangan hangat yang menjadi kontrol sosial pada waktu itu.

Mencari kutu dirambut kepala adalah pekerjaan yang sulit dan susah sekali untuk menemukannya lagi. Kutu rambut yang begitu kecil dicari-cari pelan dengan menggunakan tangan memilah rambut berurutan. Sebuah pekerjaan yang amat sangat susah.

Dalam kaidah budaya Jawa itulah aja seneng metani alaning liyan maksudnya jangan mencari kesalahan orang lain seperti mencari kutu dirambut kepala yang kadang tidak menemukan kutu. Atau malah tidak menemukan kesalahan orang tersebut hanya ingin melakukan perbuatan untuk merendahkan orang laian tapi tidak ditemukan akhirnya muncul fitnah dikalangan masyarakat.

Source http://www.mediakontak.com/ http://www.mediakontak.com/2016/12/budaya-cari-kutu.html
Comments
Loading...