Budaya Banian, Budaya Bangsawan Sunda

0 41

Budaya Banian

Banian balerasal dari bahasa Arab yaitu Bani/ Banu (بني/ بنو) yang artinya adalah keluarga, klan, atau keturunan. Maka arti Banian adalah berkumpulnya sebuah keluarga besar. Acara ini biasanya diadakan untuk saling mengenal antara keluarga yang memiliki keturunan yang sama. Pada mulanya acara ini diadakan oleh para bangsawan Sukapura – Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Pangandaran, dan Banjar – untuk mempertemukan cabang keluarga mereka. Seiring dengan berkembangnya waktu, acara banian tidak hanya diadakan oleh keluarga bangsawan namun juga oleh keluarga dari kalangan biasa namun masih dengan tujuan yang sama, yaitu untuk saling mengenal antar keluarga dengan keturunan yang sama.

Acara banian ini menjadi salah satu rangkaian acara saat Idul Fitri di Tasikmalaya dan sekitarnya. Acara ini selain untuk mempererat hubungan keluarga, biasanya acara ini pula menjadi momen untuk menyebarkan undangan pernikahan dan juga perjodohan. Acara banian sendiri biasanya diadakan pada hari ke dua atau ketiga lebaran atau Bulan Shawwal ( Bulan Islam). Alasan mengapa acara ini selalu diadakan pada bulan Shawwal adalah karena pada momen ini biasanya keluarga besar dari seluruh daerah pulang ke kampung halamannya masing – masing sehingga memudahkan kehadiran keluarga yang jauh.

Acara ini sendiri biasanya diadakan di rumah ketua keluarga ataupun di aula yang telah dipesan sebelumnya. Acara banian ini sendiri saat ini sudah mulai ditinggalkan karena setiap keluarga pada cabang tertentu memiliki acara lain saat acara ini dilangsungkan, sehingga tidak dapat menghadiri acara banian ini. Salah satu keluarga yang masih melaksanakan acara ini adalah keluarga Rd. Tanoewidjaya yang merupakan keluarga bangsawan Tasikmalaya yang paling berpengaruh dan cabang keluarga dari salah satu menantunya yang juga cukup berpengaruh yaitu keluarga Rd. Ahmad Hadiwinata.

Keluarga ini biasanya mengadakan acara banian di Gedung Dakwah Singaparna, Tasikmalaya. Yang unik dari acara banian keluarga ini adalah selalu disebutkan nama semua cabang keluarganya walaupun keluarga dari anak perempuan. Jika selama ini gelar kebangsawanan selalu diturunkan dari pihak anak laki – laki, maka dalam keluarga Rd. Tanoewidjaya dan keluarga Rd. Ahmad Hadiwinata keluarga dari anak perempuan pun mewarisi kebangsawanan dan diakui sebagai cabang dari keluarga. Hal ini menyebabkan semua keturunan dari anak perempuan dari keluarga Rd. Tanoewidjaya dan keluarga Rd. Ahmad Hadiwinata memiliki dua garis keturunan.Hal ini dimaksudkan supaya seluruh kerabat bisa saling mengenal satu sama lain, sehingga apabila kita berada didaerah lain yang mana ada kerabat kita disana, kita bisa menyambung tali silaturrahmi dengan mereka. Demikian pemeparan tentang buadaya banian di Tasikmalaya.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Budaya-Banian/
Comments
Loading...