Brai, Kesenian Cirebon Yang Masih Bertahan

0 241

Brai merupakan salah satu jenis kesenian tradisional Cirebon bernafaskan Islam, sejenis sholawatan atau terbangan yang banyak dimainkan  masyarakat Muslim di Nusantara. Bentuknya berupa nyanyian, solo dan koor dilantunkan berganti-ganti atau berbarengan dengan syair-syair keagamaan. Seperti kesenian yang berasal dari Timur Tengah, bisanya mnggunakan bahasa Arab (seperti Al Barzanji), brai menggunakan bahasa Cirebonan. Lantunan ayat suci Al-Quran, tauhid, yang berkenaan dengan keimanan atau keilahian, mendominasi syair-syairnya. Brai berasal dari kata birahi atau kasmaran yaitu cinta kepada Allah, karena itu bernafaskan Islam dan berkembang sejak zaman Sunan Gunung Jati dan digunakan sebagai sarana pengembangan ajaran agama Islam. Waditra yang digunakan adalah 2 buah terbang dan gendang.

Sejarah Kesenian Brai

Mengisahkan bahwa abad 13 Masehi di pelabuhan Muara Jati bersandar kapal yang membawa tiga orang bangsawan dari Baghdad, putra-putra Sultan Khutbi penguasa Baghdad, mereka adalah Sayid Abdilah, Sayid Syarudin dan Sayid Abdurakhman. Saat di Baghdad ketiganya sudah dikenal pintar bernyanyi dan bersyair sambil menabuh rebana. Kedatangannya untuk belajar agama Islam kepada Syekh Nurjati (Syekh Datuk Kahfi) yang juga berasal dari Baghdad dan kemudian tinggal di Gunung Amparan Jati untuk menyebarkan ajaran Islam. Kondisi Muara Jati saat itu belumlah ramai dan masih sedikit penduduknya.

Dalam perjalanan menuju ke Amparan Jati ketiganya tersesat dan sulit menanyakan arah karena tidak bertemu dengan penduduk. Maka untuk melepas lelah, sambil berjalan mereka bernyanyi dan menabuh rebana.

Rupanya hal tersebut menarik perhatian satu-dua orang penduduk yang mendengarnya dan mendatanginya. Dari penduduk ketiganya dapat menentukan arah menuju Amparan Jati. Bahkan sepanjang perjanan, banyak penduduk yang terpesona serta tertarik untuk melihat dan mengikuti mereka. Singkat cerita kedatangan mereka disambut dengan teramat gembira oleh Syekh Nurjati dan selanjutnya mereka mendapat gemblengan ajaran Islam secara total. Akhirnya Syekh Nurjati menyerahkan paguron Amparan Jati kepada Sayid Abdilah yang kemudian bergelar Syekh Datuk Khafid. Adapun kedua saudaranya disuruh membuka hutan dan mengembangkan Islam. Kedua adiknya, yaitu Syekh Abdul Rakhman disebut Pangeran Panjunan dan Sayid Syarifudin (Syekh Abdu Rakhim) bergelar Pangeran Kejaksan. Saat Kerajaan Galuh yang di pimpin oleh Prabu Cakraningrat  masih menguasai Cirebon, ketiga bersaudara itu mencari cara aman untuk mengembangkan Islam ke wilayah Galuh agar tidak dicurigai penguasa Galuh. Akhirnya terciptalah Seni Brai sebagai media syiar yang terselubung.

 

Source Brai, Kesenian Langka Yang Masih Bertahan Brai, Kesenian Langka Yang Masih Bertahan Brai, Kesenian Langka Yang Masih Bertahan
Comments
Loading...