Boyong Kedhaton “Solo Gumregah” Perayaan 274 Tahun Kota Solo

0 72

“Solo Gumregah” yang merupakan sebuah parade seni dan budaya sebagai  salah satu wujud apresiasi  Pemerintah Kota Surakarta terhadap seni budaya, dalam rangka Hari Jadi Kota Surakarta yang ke 274 Tahun dengan mengadakan pementasan yang didukung sekitar 250 seniman.

Parade seni budaya ini pada tahun 2019 dilaksanakan di depan halaman Balai Kota Surakarta di Jl. Jendral Sudirman No. 2 Kp Baru, Ps Kliwon Kota Surakarta, pada hari Minggu tanggal 17 Pebruari 2019, dari mulai jam 20.00 wib sampai selesai.

Acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. Berlangsung sukses dan meriah, walaupun sempat terganggu hujan yang sangat deras sekali sebelum acara ini dimulai, tapi hal itu semua tidak menyurutkan para penonton untuk melihat acara ini secara langsung, malah semakin malam semakin banyak penonton yang terus berdatangan tanpa menghiraukan rintik-rintik hujan.

Boyong Kedhaton “Solo Gumregah” diawali dengan menampilkan kelompok karawitan dari 5 kelurahan yang ada di Surakarta yang secara bergantian menampilkan keindahan karawitan, mulai dari Kelurahan Gilingan Kecamatan Bajarsari, Kelurahan Joyosuran Kecamatan Pasar Kliwon, Kelurahan Karangasem Kecamatan Laweyan, Kelurahan Jebres Kecamatan Jebres dan Kelurahan Serengan Kecamatan Serengan.

Ada yang unik dalam pementasan kelompok karawitan ini, dimana selain banyak menampilkan para seniman-seniman tua dan remaja, ada yang menampilkan seniman-seniman anak-anak mulai dari wiyogo sampai pengrawit semua anak-anak. Sebuah regenerasi seniman yang layak dicontoh oleh daerah-daerah lain sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan seni budaya secara nyata.

Dalam pementasan ini juga ditampilkan doa bersama yang dilakukan oleh perwakilan pemuka agama yang ada di Indonesia, mulai dari Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Islam yang pada intinya mengharapkan agar Indonesia aman dan sejatera penduduknya serta semakin maju kedepannya khususnya Kota Surakarta.

Acara ini diakhiri dengan opera kolosal dengan judul Boyong Kedhaton “Solo Gumregah” yang menceritakan tentang sejarah berdirinya Kota Surakarta yang menitikberatkan pada sejarah perpindahan Kraton Kartosuro ke Surakarta pada masa PB II yang sangat fenomenal.

Berbeda dengan pementasan tari kolosal biasanya, pertunjukan ini dirangkai dengan dialog antar pemainnya. Sepanjang pertunjukan penonton dibantu dengan teks narasi yang dibacakan dalam bentuk bahasa Indonesia yang disertai dengan selingan tembang atau lagu.

Pertunjukan ini adalah persembahan 3 tahun kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Surakarta untuk masyarakatnya. Dengan  diselenggarakan acara ini di Halaman Balai Kota yang memberikan identitas  bahwa birokrasi kini sudah menyatu dengan masyarakat, sehingga akan terjalin hubungan lebih dekat antara pemimpin dengan masyarakatnya.

Konsep artistik  yang digarap dalam pementasan ini lebih menonjolkan bentuk Aristektur dan kemegahan bangunan Pendopo Balai Kota Surakarta yang di padu dengan gunungan lanang dan gunungan wedok sebagai wujud dan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Di tengah-tengah adegan kolosal ini sempat diselinggi sambutan dari Walikota Surakarta, FX. Hadi Rudyatmo yang intinya mengajak masyarakatnya untuk selalu bersatu dan bekerja sama untuk mencapai masyarakat adil dan makmur lewat membangun 5 budaya, yaitu budaya hidup gotong royong, budaya hidup memiliki, budaya hidup merawat, budaya hidup menjaga dan budaya hidup mengamankan kota Surakarta khususnya.

Sebuah pegelaran kolosal yang menjadi spirit bagi masyarakat Kota Surakarta di jaman sekarang ini tanpa meninggalkan sejarahnya, dan ini menjadikan Kota Surakarta lebih maju, aman, damai serta sejahtera dalam kehidupannya, dan tentunya spirit ini akan selalu di bawa sampai kapanpun untuk membentuk masyarakat yag lebih baik dan lebih baik lagi.

Source https://myimage.id https://myimage.id/boyong-kedhaton/
Comments
Loading...