Betawi Pulang Aji

0 45

Betawi Pulang Aji

Setiap daerah pasti memiliki tradisi dalam menyambut kepulangan jamaah haji ke kampung halamannya, termasuk di Betawi. Orang Betawi mengucapkan kata “haji” dengan “aji”. Sampai saat ini, tradisi ini masih ada dan dijalankan di beberapa tempat di daerah DKI Jakarta yang masih kental adat dan budayanya.

Menurut beberapa sumber yang saya kutip, seminggu setelah Lebaran Aji, suasana kampung akan ramai. Keluarga yang anggotanya menunaikan ibadah haji, akan sibuk mempersiapkan rumah mereka dalam rangka menyambut kepulangan jemaah haji tersebut. Warga kampung pun tak terkecuali ikut dalam hingar-bingar kepulangan jamaah haji tersebut. Di ruang tengah, ruang tamu, sudah digelar tikar atau karpet dan disiapkan kasur di atasnya. Disiapkan juga masakan khas Betawi, terutama sayur asem, pecak ikan gurami, dan sebagainya.

Saat rumah dibersihkan dan disiapkan, sebagian keluarga yang lain akan pergi menjemput keluarganya yang tiba dari Tanah Suci.  Kemudian, begitu jamaah haji sampai di rumah, petasan segera dibunyikan. Pembakaran petasan ini sebagai tanda kepada warga kampung bahwa bapak dan atau ibu haji sudah tiba di rumahnya dengan selamat dan sehat walafiat. Jamaah haji tersebut biasanya akan menghampiri warga kampung yang telah menunggunya di sepanjang jalan. Selama perjalanan ia ke rumah itulah, si jamaah akan menyambut ucapan selamat dan doa-doa yang diucapkan oleh para warga. Tak lupa selama sesi bersalaman, diperdengarkan shalawat oleh para remaja masjid sekitar kampung untuk menambah rasa ketaqwaan di kampung tersebut.

Selain minta didoakan, para warga juga mengharap oleh-oleh yang dibawa jauh dari Tanah Suci. Oleh-oleh tersebut biasanya berupa air zamzam, pacar, sajadah, kurma, kacang arab, siwak, gincu dan sebagainya.

Jamaah haji yang mampu dan memiliki dana lebih, biasnya mereka akan mengadakan pengajian atau acara syukuran dengan memanggil ulama atau ustaz untuk memberikan tausiyah kepada warga di sekitar rumahnya. Selain itu, yang baru pulang haji akan diberian kesempatan menceritakan pengalamannya ketika beribadah haji. Hal tersebut diharap sebagai motivasi kepada warga lainnya agar menyegerakan niat dan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji.

Suasana kunjungan tetangga atau warga kampung ini baru akan sepi setelah dua minggu. Dan, bagi orang Betawi, jamaah haji yang baru pulang tidak boleh keluar rumah yang sifatnya santai atau kongko-kongko sebelum 40 hari. Orang Betawi yang pulang haji dipanggil dengan Pak Haji atau Bu Haji. Disebut Bang Haji jika usianya masih muda. Penyebutan ini merupakan kehormatan karena gelar haji bagi masyarakat Betawi menempati posisi yang terhormat karena  yang bergelar haji ini menjadi bagian dari elite Betawi.

Haji Betawi juga juga dikenal dermawan dan berkorban; sering mengadakan santunan dan bagi-bagi berkat karena gemar mengadakan syukuran, maulidan, dan tahlilan serta mau mengorbankan harta mereka untuk kepentingan umum, seperti mewakafkan tanah untuk masjid dan madrasah. Dan masih banyak hal-hal yang mereka lakukan untuk sesama, sebagai wujud menambah keimanan mereka.

Orang Betawi memahami dan memaknai haji sebagai ibadah yang menyempurnakan keislaman mereka. Karena keislaman mereka sudah sempurna, harus diiringi dengan akhlak yang juga harus lebih baik daripada sebelum berhaji. Terlebih, perjuangan untuk bisa berhaji tidaklah mudah, biayanya juga mahal. Sayang sekali jika setelah haji, kelakukan sama bahkan lebih buruk dari sebelum haji.

Semoga jamaah haji Indonesia yang pulang ke kampung halamannya menjadi haji yang mabrur, haji yang mampu menjadi panutan karena kereligiusannya, kedermawanannya, pengorbanannya, dan akhlak yang baik.

Source https://budaya-indonesia.org/ https://budaya-indonesia.org/Betawi-Pulang-Aji/
Comments
Loading...