“Besutan” Potret Kesenian Rakyat Jombang

0 51

Besutan merupakan kesenian tradisional asli Kabupaten Jombang yang merupakan pengembangan dari Kesenian Lerok. Sejarah panjang kesenian Besutan di Kabupaten Jombang memang seperti tiada habisnya. Perjalanan panjang ini seperti memberi tanda bahwa Besutan, benar-benar mengandung arti mbeto maksut (membawa pesan/maksud) atau juga berarti mbasuh atau menghilangkan noda/kotoran. Sehingga kenyataan ini menunjukkan bahwa Besutan sebenarnya merupakan simbol dari rakyat Jombang yang memiliki semangat kehidupan yang selalu dinamis, suatu kehidupan yang selalu berusaha mencari sesuatu yang terbaik, kehidupan yang akomodatif terhadap suasana jaman yang sedang dihadapinya. Hasil yang diharapkan dari proses tersebut adalah terhapusnya hal-hal yang tidak baik dan munculnya sebuah karya yang luar biasa.

Asal Mula Kesenian Besutan

Asal-usul kesenian Besutan adalah kesenian Lerok yang kemudian dikembangkan hingga menjadi Besutan. Kesenian Lerok merupakan kesenian yang bersifat amen. Fahrudin mengatakan bahwa menurut berbagai sumber tutur di Jombang yang ia dapat, munculnya  lerok yang  dirintis  oleh  Pak  Santik. Pak Santik mengembangkan  seni lerok sejak 1908 sampai 1920-an.

Dengan wajah dibedaki putih menebal tapi tak rata, atau yang kerap disebut pupuran lerok, ia dan kawan-kawannya tersebut terus ngamen dari  kampung  ke  kampung.  Lerokan  Pak  Santik  ini  kemudian berkembang menjadi Besutan. Besutan memiliki fungsi sebagai penyampaian pesan dan daya tarik dalam Besutan terletak pada permainannya yang pada mulanya pelakunya hanya satu orang yang melakukan monolog, dan dalam perkembangannya, pelakunya menjadi lebih dari satu orang. Lakon yang dibawakan merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari. Dari bermacam-macam lakon yang disuguhkan, ternyata yang menggunakan tokoh Besut paling digemari penonton. Lama kelamaan, karena lebih sering melakonkan Besut, maka keseniannya kemudian disebut Besutan.

Kata besutan berasal dari kata besut. Besut itu sendiri merupakan akronim dari kata mbeto maksut (membawa pesan). Ada juga yang mengatakan besut berasal dari kata besot (menari). Besut merupakan nama tokoh utama dalam pertunjukan Besutan. Tokoh Besut merupakan sosok laki-laki yang cerdas, terbuka, perhatian, kritis, transformatif, dan nyeni.

Besutan Pada Periodesasi 1972 sampai dengan 1991.

Merupakan periode yang kembali kebentuk awal dari Besutan. Jadi tidak ada ngremo, lawakan, maupun tambahan cerita yang menyimpang dari Besutan. Lawakan tetap ada karena merupakan bagian dari serangkaian Besutan yang diwujudkan lewat dialog, Juga gerakan Besutan yang bertipe gecul. Secara rinci teruraikan sebagai berikut:

  1. Gendhing Kalongan (Bahasa Jawa).

    Besut memasuki arena pertunjukan tidal lagi dengan duduk, tetapi berjalan maju mengikuti pembawa obor. Mulutnya tersumbat susur dan kedua matanya terpejam. Langkahnya sesuai dengan pemukulan gamelan, pada hitungan ketiga gong terakhir obor di lempar dan sekaligus susur yang ada di mulutnya di semburkan. Di lanjutkan gerakan tari “Gejuk” menuju ke tengah arena. Sampai di tengah, duduk sila dan sembahan. Sembahan selesai, lalu berdiri, di lanjutkan menari dengan ragam gerak yang tersusun.

  2.  Tanpa Gendhing.

    Selesai menari, mata Besut mulai dibuka, kain putih diturunkan dengan tujuan memperlihatkan dada, dan mulai bersuara “Uhu..Uhu…”. Pengrawit mulai memukul nada-nada tertentu, dengan tujuan Besut dapat menyesuaikan suaranya dengan nada yang ada dalam gamelan. Setelah tahu nadanya, dilanjutkan dengan kidungan pambuka, saling menyaut antara besut dengan pengrawit, dan kidungan pos sebagai akan di mulainya gendhing Jula-Juli.

Source "Besutan" Potret Kesenian Tradisional Rakyat Jombang "Besutan" Potret Kesenian Tradisional Rakyat Jombang "Besutan" Potret Kesenian Tradisional Rakyat Jombang

Leave A Reply

Your email address will not be published.