Bengberokan, Barongsai Jawa Yang Masih Tetap Lestari

0 82

Berokan adalah kesenian khas Indramayu dan sebagian wilayah Cirebon. Seni ini dimainkan oleh seorang yang bertindak sebagai pemain inti dengan menggunakan pakaian yang terbuat dari karung goni ditambah dengan ijuk dan serpihan tambang dan kaca, dengan kepala yang terbuat dari kayu yang mulutnya bisa digerakan turun naik sehingga menimbulkan bunyi plak plok. Warna kedoknya merah dengan mata besar yang menyala, ekornya terbuat dari kayu yang dicat belang-belang merah. Dalam mulut pemainnya ada semacam pluit (sempritan bhs Indramayu) yang terbuat dari bambu atau plastik. Ada pendapat bahwa kata berokan berasal dari kata “barokahan” (keselamatan). Namun nampaknya keterangan tersebut hanya sebuah kirata (bahasa Sunda, yang artinya dikira-kira namun tampak nyata), sebuah gejala yang umum terjadi di dalam penamaan jenis seni rakyat.

Sejarah Kesenian Berokan 
Menurut tuturan riwayat yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan senimannya, berokan adalah warisan Pangeran Korowelang atau Pangeran Mina, seorang penguasa laut Jawa di wilayah Cirebon dan Indramayu. Namun terdapat pula tuturan yang juga diwariskan di kalangan seniman berokan, bahwa berokan merupakan kreasi Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Cakrabuana, ketika menyebarkan syiar Islam ke wilayah Galuh, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali, dalam menyebarkan agama Islam menggunakan pertunjukan sebagai media syiar agama, ditujukan agar dapat mudah diterima dilingkungan budaya pada saat itu.
Bentuk Pertunjukkan Berokan
Berokan atau disebut juga Bengberokan dimainkan juga pada upacara Ngunjung Buyut, yaitu upacara untuk menghormati arwah leluhur di pekuburan desa-desa tertentu. Berokan merupakan kedok yang dibuat dari kayu, yang bentuknya mirip dengan buaya atau naga. Pada umumnya para pemain berokan adalah laki-laki. Untuk melibatkan penonton, Berokan digerak-gerakan dengan lincah, kedoknya dimainkan seakan-akan mau mengigit penonton. Efek spontanitas ketakutan penonton (terutama anak-anak) dimanfaatkan oleh pemain Berokan untuk semakin garang dan menghibur.
Pertunjukan Berokan diawali dengan tetalu dan kidung dalam bahasa ibu (Indramayu atau Cirebon), dilanjutkan dengan tarian Berokan yang lambat, perlahan-lahan untuk kemudian menjadi naik turun dan bergairah. Pertunjukan Berokan akan lebih menarik lagi, jika dimainkan di atas pecahan kaca (beling) dan menari-nari di atas bara api. Apabila pertunjukan Berokan dikaitkan dengan upacara tertentu, biasanya dilakukan Kirab Sawan, yakni upacara penyembuhan atau untuk keselamatan dan keberkahan. Kirab Sawan dilakukan setelah sesajen dan persyaratan lainnya lengkap.
Musik pengiring Berokan sangatlah sederhana, terdiri dari kendang, terebang, kecrek, dan bende (gong kecil) yang dimainkan oleh enam orang. Musiknya memang terasa monoton, namun demikian dinamika kadangkala muncul dari kendang dan kecrek, bersahutan dengan suara plak-plok dari kepala Berokan yang terbuka dan tertutup. Untuk terus lestari kini kesenian Berokan telah sedikit dimodifikasi dengan alat musik yang lebih modern, yaitu dilengkapi gitar dan piano dan juga pentas memenuhi undangan khitanan dan syukuran lainnya.
Source Bengberokan, Barongsai Jawa Yang Masih Tetap Lestari Bengberokan, Barongsai Jawa Yang Masih Tetap Lestari Bengberokan, Barongsai Jawa Yang Masih Tetap Lestari

Leave A Reply

Your email address will not be published.