Beksan Menak Jayengrono Kelasworo

0 8

Beksan Menak Jayengrono Kelasworo

Beksan Menak Jayengrono Kelasworo adalah sebuah tarian gaya Yogyakarta yang ide ceritanya mengambil dari serat menak yang menceritakan tentang pertempuran antara Prabu Jayengrono (Wong Agung Jayengrono) melawan Dewi Kelasworo, dimana didalam pertempuran keduanya ini mereka malah saling jatuh cinta. Prabu Jayengrono adalah salah satu tokoh dalam serat menak yang bernama Amir Hamzah, beliau adalah Paman dari Nabi Muhamad SAW yang dalam cerita ini berasal dari Persia yang kemudian disadur dalam versi Jawa bernama Wong Agung Jayengrono.

Sedangkan Dewi Kelasworo adalah seorang putri dari Prabu Kaellan Jajali penguasa Kerajaan Kaelani. Sifat dari Dewi Kelasworo adalah cerdik, ahli dalam peperangan, lugas, kuat dan memegang nilai-nilai etika kehidupan pada umumnya. Tarian ini ditarikan oleh Sanggar Tari Irama Tjitra pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 18 Maret 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

  

Sanggar Irama Tjitra adalah sebuah sanggar tari gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1949 yang kegiatan setiap harinya di Bangsal Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY. Sanggar ini dulunya dibentuk oleh para seniman-seniman muda yang bergabung di Sanggar Tari Krido Bekso Wirama yang merupakan sanggar tertua di Yogyakarta yang lahir di luar tembok Kraton Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1918.

Sanggar Irama Tjitra pernah vakum agak lama lepas peristiwa pada tahun 1965 di Indonesia, tapi kemudian mulai aktip lagi pada tahun 1997 sampai sekarang. Sanggar ini sekarang lebih memprioritaskan regenerasi penari, dimana penari yang lebih muda lebih diberi kesempatan untuk tampil pentas dengan bimbingan para seniornya. Latar belakang dari cerita Beksan Menak Jayengrono Kelasworo ini dari tanah Arab (Persia) yang berhubungan dengan penyebaran Agama Islam.  Dimana pada peperangan antara Prabu Jayengrono (Wong Agung Jayengrono) melawan Dewi Kelasworo, Dewi Kelasworo akhirnya kalah, tapi diampuni oleh Prabu Jayengrono (Wong Agung Jayengrono) dengan syarat Dewi Kelasworo masuk Agama Islam.

Syarat itu akhirnya diterima oleh Dewi Kelasworo dan dia akhirnya juga diperistri oleh Prabu Jayengrono (Wong Agung Jayengrono). Pada dasarnya negara-negara yang ditaklukan oleh Prabu Jayengrono (Wong Agung Jayengrono) kemudian disarankan masuk Agama Islam. Kalau tidak mau dengan titah Prabu Jayengrono (Wong Agung Jayengrono) ini maka negara itu akan dihancurkan dengan dibumi hanguskan dari muka bumi ini. Gerak Beksan Menak Jayengrono Kelasworo ini mengadopsi dari gerak Wayang Golek Kayu dimana geraknya banyak patah-patah yang didalamnya terkandung unsur gerak silat gaya Sumatra, hal ini karena Sinuhun Hamengku Buwono IX sangat tertarik dengan gerak silat ini dan kemudian dimasukan dalam gerak tari klasik gaya Yogyakarta.

Selain itu gerak tari ini juga memakai gerak tari yang sering disebut dengan luruh dan brayak, yang sifat dari gerak ini sangat maskulin tapi tegas. Untuk busana pada tarian ini memakai irah-irah lar, sumping, godek, rambut oreng, sedangkan kebayanya memakai bludru dan lis, kalung susun tiga, klat bahu rangrangan, pendeng, sonder, celana cinde berbentuk panji, jarik dengan model capit urang dan motipnya parang rusak gordo untuk penari Dewi Kelosworonya sedangkan untuk Prabu Jayengrono memakai motip parang rusak gendreh.

Untuk riasan menggunakan riasan karakter, yang biasanya kalau untuk penari putrinya sering disebut brayak (cantik) sedangkan penari putanya sering disebut alus impur. Riasan ini sangat memperkuat karakter dari penarinya dikala menarikan tarian ini. Sedangkan untuk iringan lagunya, tarian ini menggunakan gamelan khas Jawa yang mana iringannya biasanya menggunakan gendhing playon gambuh, ketawang madu murti pelog barang, playon gambuh lagi dan terakhir memakai ladrang manten.

Sebuah tarian yang benar-benar memperhatikan secara detail, mulai dari gerak, busana, riasan sampai irama gendhing yang mengiringi tarian ini yang mengacu pada budaya Kraton Yogyakarta yang sangat khas sekali. Selain sebagai ekspresi pada sanggar-sanggar tari yang ditunjuk oleh Kraton Yogyakarta untuk tampil di Pendopo Srimanganti ini, ajang ini juga sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan tari gaya Yogyakarta sebagai bagian dari sector Pariwisata untuk menarik para wisatawan untuk datang ke Kraton Yogyakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-menak-jayengrono-kelasworo/

Leave A Reply

Your email address will not be published.