Beksan Lawung Jajar, Kesenian Bangsal Srimanganti Kraton Yogyakarta

0 30

Beksan Lawung Jajar adalah sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang didalamnya menceritakan tentang prajurit Kraton yang sedang berlatih perang dengan menggunakan tombak tumpul di ujungnya (lawung) yang ditarikan oleh 12 penari yang terdiri dari 2 botoh, 2 salaotho, 4 jajar dan 4 pengampil.

Dalam perkembangannya memang Beksan Lawung Jajar ini selalu mengalami perkembangan, baik dari perubahan koreografi, busana dan perangkatnya sampai pada instrumen yang mengiringinya dengan adanya trompet dan tambur yang semuanya ini terjadi pada masa HB V.

Tarian ini ditarikan oleh Mahasiswa Jurusan Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta pada Pagelaran Pariwisata di Bangsal Srimanganti, yang  merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 3 Maret 2019 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

Tarian ini di ambilkan atau petilan dari Beksan Lawung Jajar Ageng dimana disini ada 2 bagian yaitu Jajar dan Lurah. Kali ini diambil Jajarnya yang lebih dinamik, dilihat dari sisi gerak dan tempo iramanya lebih menghentak, selain itu tarian ini menggambarkan sifat patriotik, heroisme dan keagungan.

Beksan Lawung Jajar juga sebagai symbol kebesaran dari Kraton Yogyakarta dimana secara komplit tarian ini merupakan bagian dari Beksan Trunojoyo yang isinya ada 3 bagian, pertama Lawung Jajar Ageng yang utuh, kedua Lawung Alit atau Alus dan ketiga adalah Beksan Sekar Meduro yang jumlah penarinya ad 42 penari.

Selain mempunyai kesan militerisme tarian ini juga punya jiwa estetika, semua ini merupakan perpaduan yang tercermin dalam dinamika, ketegasan dan disiplin yang ditanamkan dalam tarian ini, dimana seniman harus mempunyai jiwa estetika dan humanis, tidak boleh egois.

“Sejauh ini, perkembangan tari yang berkaitan di luar Kraton memang sudah diperkenankan sepanjang melihat event-eventnya. Biasanya Beksan Lawung Jajar digunakan untuk upacara pernikahan. Fungsinya selain sebagai kedisiplinan, patriotism tarian ini juga symbol romantisme (hubungan suami istri)”, ujar Dr. Kuswarsantyo, M.Hum selaku Kajur Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.

Hubungan romantisme tersebut diwujudkan lawung atau tombak tumpul pada ujungnya itu menyimbolkan sebagai laki-laki, pada saat hentakan tombak dengan bumi (ibu pertiwi) sebagai simbol wanita. Semua ini menggambarkan hubungan wanita dan laki-laki yang sudah menikah (linggayoni), kemudian tarung dua-dua sebagai simbol keperkasaan laki-laki.

Gerak dasar dari Tari Lawung Jajar adalah memakai gerak kapang yang lebih kasar, karena pangkatnya lebih rendah dibandingkan dengan lawung Lurah, agak sigrak seperti tari keprajuritan yang sifatnya membangkitkan sifat kepahlawanan prajurit Kraton dimasa itu. Geraknya lebih merupakan sindiran-sindiran halus terhadap ketidaksukaan Sultan terhadap pembesar-pembesar Belanda di Kraton Yogyakarta.

Busana yang dikenakan pada Tari Lawung Jajar terbagi menjadi beberapa peran dimana busana pada 2 botoh menggunakan jarik dengan motip parang barong ceplok gurda, celana, bara, stagen, sampur bermotip cinde, kamus timang, kaweng cinde buntal, kiat bahu candrakirana, kalung sungsun, sumping mangkara ron dan keris gayaman serta oncen keris.

Sedangkan 4 orang jajar dan pengampil mengenakan kain kawung ageng ceplok gurda, celana cinde, bara cinde, stagen cinde, kamus timang, sampur cinde, kaweng cinde, buntal, kiat bahu nganggrang, kalung tanggalan oren, keris gayaman dan oncen keris, serta klinthing. Dan dua orang salaotho mengenakan kain parang seling, celana panji putih, kopel kulit, baju beskap biru tua (gelap), kacu, iket lembaran, dan klinthing.

Iringan gendhingnya menggunakan gamelan klasik Jawa dengan gendhing roning tawang yang kemudian dilanjutan dengan gendhing dawah gangsaran pada saat adegan peperangannya. Disini ada kombinasi masuknya orkestra di dalam Kraton pada masa HB V. Masuknya trompet dan tambur ini terbukti sangat harmonis dan sampai sekarang tetap digunakan dalam tari Lawung dan Srimpi.

Beksan Lawung Jajar menyimbolkan seorang laki-laki yang gagah perkasa dengan tongkatnya, sedangkan seorang perempuan dilambangkan sebagai tanah ibu pertiwi. Ini semua terlihat dari lelagon Tari Lawung Jajar sebagai petuah Sang Sultan tentang perkawinan dengan symbol kesuburan.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-lawung-jajar/
Comments
Loading...