Beksan Bedhaya Parta Krama, Yogyakarta

0 62

Beksan Bedhaya Parta Krama adalah sebuah tarian klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang polokromo atau pernikahannya Raden Arjuna dengan Dewi Sembodro. Tarian ini juga merupakan salah satu tarian pusaka yang dimiliki oleh Kraton. Tarian ini ditarikan oleh ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan,  pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti yang merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 22 April 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

  

Beksan Bedhaya Parta Krama diciptakan oleh KRT. Samitadipura (Romo Sas) pada tahun 1985-1986. Beliau adalah seorang ahli tari pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, IX dan X. Beliau sangat kreatif dalam usahanya agar tari klasik Yogyakarta dapat diminati oleh masyarakat terutama tarian wanita. Beksan Bedhaya dulu awalnya durasinya sangat lama, hampir 4 jam lebih.

Tapi kemudian direkontruksi dijadikan menjadi 2 jam, 1 jam bahkan dalam Beksan Bedhaya Parta Krama menjadi 45 menit  dengan harapan menjadi sebuah tontonan pertunjukan yang lebih menarik bagi siapa saja yang melihat tanpa menghilangkan makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Dalam Beksan Bedhaya Parta Krama, penari dituntut harus benar-benar mempunyai sesuatu yang istimewa sebagai penari, selain harus mempunyai fisik dan daya ingat yang kuat, penari juga dituntut mempunyai tanggung jawab tersendiri terhadap peran yang ditarikannya.

Beksan Bedhaya Parta Krama ditarikan oleh 9 penari dengan peran sebagai endhel, bathak, gulu, buntil, apit ngajeng, apit wingking, wedalan ngajeng, wedalan wingking yang kesemuanya selain menggambarkan wujud manusia secara utuh, juga menggambarkan 9 lubang yang ada ditubuh manusia, yang mempunyai makna kalau manusia sudah bisa menutup babagan hawa songo (menutup lubang napsu manusia) maka dia sudah dapat dikatakan sebagai manusia yang menep dan sareh Karakteristik Beksan Bedhaya Parta Krama merupakan tarian yang luruh atau mempunyai deep control yang bagus dalam rasa. Dalam setiap tari bedhaya semua mempunyai laku yang khusus, hanya yang membedakan bedhaya satu dengan lainnya adalah isi cerita dalam tariannya. Ini bisa dilihat dari rakit gelar, dimana setelah rakit tigo-tigo yang kemudian masuk rakit cerita.

Laku bedhaya mempunyai beberapa tahapan antara lain sebelum rakit tigo-tigo semuanya belum ada ceritanya, tapi semuanya itu harus diikuti dulu dari rakit ajeng-ajengan, mlebet lajur, medal lajur, ajeng-ajeng lagi, iring-iringan kemudian rakit tigo-tigo, suwuk baru masuk gelar. Komposisi dalam Beksan Bedhaya Parta Krama dengan yang lain juga beda, disini rakit gelarnya Arjuna bertemu, pernikahan, berkasih-kasihan, membangun rumah tangga yang bahagia dengan  Dewi Sembodro.

Dalam Beksan Bedhaya Parta Krama yang mempunyai peran yang utama secara simbolis adalah endhel (kepala), Batak (hati/rasa) dan Kresna. Semua penari mempunyai sifat yang homogen artinya mulai dari penghayatan, gerak dan busananya semua sama dengan tujuan untuk mewujudkan peran manusia secara utuh dalam keharmonisan, yang terkandung didalam gendhingnya. Dalam beksan bedhaya harus mengandung wiromo, wirogo, wiroso pada penarinya.

Gerakan dalam Beksan Bedhaya Parta Krama antara lain ada impang mewer gundhek, impang lembehan, impang encot, setelah itu rakit tigo-tigonya adalah bangomate, tapi juga memasukan unsur gerak tari putri gaya Yogyakarta dengan ragam gerak ngenceng gordo (gerak pokok putri) yang kemudian dikembangkan berbagai motip gerak seperti gerak gordo astuminggah, pucang kanginan, jangkung lilih, gundhuh sekar yang kesemuanya itu mengikuti istilah dari alam seperti ombak banyu (ombak air) dan wedhi kenser (berjalan diatas pasir).

Busana yang digunakan pada Beksan Bedhaya Parta Krama menggunakan dodotan, mekak, dimana pada tarian ini menggunakan baju tanpa lengan atau biasa disebut rompi dengan hiasan bulu di kepala, jamang, slepe, sampur, kain bawah yang menggunakan motip parang rusak, walaupun sebenarnya banyak juga yang menggunakan motip yang lain seperti motip parang barong, gembreng, klitik dimana ada yang pakai atau tidaknya memakai gordo.

Riasan pada tarian ini menggunakan riasan cantik yang memperkuat kecantikan penarinya ketika tampil dipanggung, selain itu pada tarian ini penari menggunakan dodotan seperti yang sering dipakai paes manten atau riasan yang sering di pakai oleh para manten dengan gelung bokornya pada rambut penari. Untuk iringannya memakai Gamelan Jawa Klasik dengan gedhing pola ketawang, ladrang, srepeg dan playon.

Kesemua tari klasik gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem atau yang biasanya disebut joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah) yang semua ini dapat di tarikan  secara utuh dan bagus harus dengan latihan secara rutin. Sebuah tarian yang mempunyai seni dan budaya secara keseluruhan mempunyai makna sebagai lambang kehidupan yang berisi norma-norma yang dapat dijadikan tuntunan bagi manusia yang lebih menep dan sareh.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-bedhaya-parta-krama/
Comments
Loading...