Bedhaya Sepuh Macak Kere Gugus Bagong

0 89

Bedhaya Sepuh Macak Kere yang merupakan sebuah tari kontemporer Bedhayan ala Bedhaya Klasik yang tergarap kekinian yang didalamnya menceritakan tentang orang-orang tua yang dimasa mudanya dulu penuh dengan kedinamisan yang diterjemahkan dalam bentuk tarian. Dijaman sekarang ini banyak sekali orang-orang kaya , bilamana dikaitkan dengan kewajiban yang sesungguhnya, mereka pasti akan berdandan ala orang tidak punya (macak kere) yang semuanya itu dilakukan untuk menghindari kewajibannya.

Fenomena ini terasa sangat aneh, dan hal ini juga terjadi di dalam dunia anak-anak, bilamana mereka berkumpul, maka hampir dipastikan tidak ada interaksi sosial ataupun rasa baik terhadap teman maupun keluarga. Semua ini disebabkan oleh fenomena jaman lewat Hand Phone yang membawa keegoisan didalam diri kita tanpa kita sadari. Bedhaya Sepuh Macak Kere adalah tarian ciptaan dari Bimo Wiwohatmo yang merupakan cantrik Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) 1979, yang kali ini diciptakan khusus untuk ditampilkan dalam Gugus Bagong 2018, Gelar Seni dan Temu Akbar Alumni Cantrik-Mentrik Nusantara dan Asean PSBK yang dilaksanakan dari tanggal 18-20 Oktober 2018 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Ds. Kembaran RT 04-05, Tamantirto, Kasiah , Bantul, DIY.

Acara ini untuk memperingati 90 tahun usia Bagong Kussudiardjo dan 60 tahun Pusat Pelatihan Tari Bagong Kussudiardja (PLBK), serta 40 tahun Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), dimana semua yang ditampilkan disini memuat spirit/semangat dari Bagong Kussudiardja yang sangat kreatif dan inovatif. Bimo Wiwohatmo lahir tahun 1957 di Yogyakarta, beliau lahir bukan dari keluarga seniman dan sejak dari kecil memang bercita-cita menjadi seorang seniman. Pendidikan terakhir di Sekolah Seni Rupa Indonesia, lepas dari sekolah ini beliau bergabung di Padepakan Bagong Kussudiardja. Beberapa karya beliau yang terkenal di Asia seperti tari Blak Dit Dot (tari anak-anak) dan tari Kubus-Kubus yang keduanya diciptakan pada tahun 1980 an.

Inspirasi tari Bedhaya Sepuh Macak Kere didapat dari melihat tari Bedhaya Klasik yang dulunya hanya ditarikan didalam Kraton untuk acara-acara khusus saja, dari sinilah kemudian beliau ingin menginterpretasikan  tarian ini sesuai dengan jaman sekarang ini. Bedhaya dalam bentuk yang modern atau kontemporer dengan masih berpijak di tanah Jawa. Gerak Bedhaya Sepuh Macak Kere masih menggunakan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang dikombinasikan dengan gerak tari kontemporer sehingga tercipta gerak yang dinamis dan variatif. Ini tergambar jelas ketika seorang ibu-ibu yang menari Bedhaya ini dalam kondisi melamun yang kemudian diingatkan pada jaman dulu yang digambarkan lewat penari muda dengan gerak-gerak kontemporer.

Pola lantainya masih memakai pakem-pakem yang ada di dalam tari Bedhaya klasik seperti pola montor mabur, jejer wayang dan rakit tigo-tigo dengan jumlah penari 13 orang. Busana yang dikenakanpun masih mengacu pada busana klasik Jawa dengan memakai busana lawasan dengan tambalan-tambalan yang disesuaikan dengan judul tarian ini, Macak Kere (berdandan ala orang miskin). Busana yang dikenakan tidak memakai filosofi yang biasa dipakai dalam Bedhaya Klasik, disini lebih dipentingkan adalah spirit desain Jawanya, bentuknya sudah dikembangkan dengan riasan natural.

Iringan musik yang mengiringi tarian ini pada intinya menggunakan kemanak yang melodinya digabungkan dengan alat musik modern, jadi disini merupakan kolaborasi antara musik klasik dengan modern yang ditata dengan bagusnya. Kita harus menyadari perkembangan jaman sekarang ini yang harus kita jalani. Hilangnya rasa sosial dan rasa kekeluargaan harus kita antisipasi. Sebuah wejangan ajaran Jawa, “yen wong wadon wis ilang wirange, mlakuho topo lelono njajah deso milang kori, ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi, kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandange, golek wisik songko sang Hyang Widhi” dapat digunakan sebagai pengingat. Ya, dengan berkembangan budaya modern secara global manusia harus lebih mawas diri dan harus diikuti, ujar Bimo Wiwohatmo.

Source https://myimage.id https://myimage.id/bedhaya-sepuh-macak-kere/
Comments
Loading...