Baren, Permainan Tradisional Lembang

0 178

Baren, Permainan Tradisional Lembang

Kata “Baren” berasal dari kata “Tiba” dan “leren” (bahasa Jawa) yang berarti jatuh dan berhenti. Namun kenyataannya pengertian berhenti (leren) tidak berarti mereka yang sudah tertangkap terus berhenti, tetapi menjadi tawanan regu lawan. Dan pengertian jatuh di dalam permainan ini tidak jatuh yang sebenarnya, tetapi jatuh dalam arti tidak mempunyai hak untuk bermain menangkap lawan atau dikatakan hilang kekuasaannya.
Permainan Baren dapat dipertandingkan dengan bentuk regu, masing-masing anggota regu penentuannya atas dasar keseimbangan besar kecil fisiknya, kecepatan larinya agar jalannya permainan seimbang dan ramai. Di samping bersifat kompetitif juga bersifat rekreatif dan edukatif. Oleh karena dapat dipertandingan maka konsekuensinya kalah menang dengan upah gendongan menurut pasangannya sendiri-sendiri.
Dilihat dari jalannya bermain, di dalamnya terkandung nilai pendidikan yaitu pendidikan mental/moral, pendidikan jasmani, selain sebagai hiburan. Pada
pelaksanaan bermainnya, anak-anak dituntut untuk mengerahkan kecekatan dan kecepatan berlari, berusaha agar dapat lebih cepat dapat melampaui batas/ garis kemenangan pihak lawan. Untuk itu terlihat adanya kebutuhan modal cepat berlari.
Pendidikan moral/mental, melatih anak akan kesadaran atas perbuatan, di mana adanya anak yang sudah kena harus rela menjadi tawanan lawan. Mereka penuh kesadaran menyerah pada lawan dan tidak akan melawan. Juga rasa sosialnya, persatuan dalam bermain ditanamkan, terbukti adanya rasa solidaritas kawan, sewaktu mereka ditawan kawan-kawannya berhak menolong atau menghidupkan kembali.
Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak antara usia 7-13 tahun baik putra maupun putri. Jumlah anggota masing-masing regu antara 5 sampai 10 orang anak, baik anak putra semua, ataupun anak putri semua atau campuran putra-putri. Penentuan jumlah anggota regu dengan jalan sut atau undian.
Jalannya Permainan
Persiapan sebelumnya adalah secara konsensus bersama menentukan batas/garis kemenangan masing-masing regu yang biasanya ditandai dengan garis kapur, jarak antara regu satu dengan yang lainnya kira-kira l0 sampai 15 m. Barulah diadakan penentuan pasangan dengan suit jari atau undian.
Penentuan jumlah anggota regu atas dasar keseimbangan agar jalannya permainan dapat ramai. Yang suit kalah, menjadi sekelompok kalah dan yang menang menjadi sekelompok menang. Untuk lebih jelasnya, yang kalah Regu A dan yang menang Regu B seperti pada gambar. Sebelum dimulai bermain masing-masing regu tidak boleh melewati batas atau garis kemenangan yang telah ditentukan dimukanya tempat berdiri berderet ke samping. Sebab apabila melewati garis gudah dianggap mulai memancing lawan dan dikatakan bahwa pihak lawan boleh untuk menyerang atau menangkap. Dalam hal ini mereka yang keluar terlebih dahulu tidak berhak menangkap, tetapi yang keluar kemudian berhak menangkapnya.
Permainan dapat dimulai dengan siapa yang lebih dahulu keluar dari garis berhak untuk ditangka penentuan regu yang keluar dulu bebas, tidak ada penentuan. Misalkan regu A yang keluar dulu (A.l) maka A. 1 ini tidak berhak menangkap, sedangkan yang berhak menangkap adalah regu B yang keluar kemudian (B.l). A.2 keluar kemudian, dan berhak menangkap B.l. B.2 keluar berhak menangkap A dan A.2., sebab keluarnya setelah A.l dan A.2. Sedangkan A.2 tidak berhak menangkap B.2, sebab keluarnya lebih dulu daripada B.2. Seandainya A.3 juga terus keluar setelah B.2, maka A.3 ini berhak menangkap B.l, B.3. Begitulah seterusnya secara bahwa masing-masing anggota regu selalu melihat siapa yang keluar dulu dan siapa yang keluar kemudian (belakang). Asal yang keluar belakangan berhak membunuh lawan yang keluar terlebih dahulu.
Misalnya A.l sudah keluar kemudian masuk lagi/kembali ke garis pegangan atau garis hidup setelah itu keluar lagi setelah A.2 dan A.3 keluar, begitu pula B.l, B.2, B.3 sudah keluar, maka A.l ini berhak membunuh/menangkap B.l, B.2, B.3 dan B.3, sebab keluarnya A.l belakangan setelah B.l, B.2, B.3 keluar. Begitu pula untuk regu B, umpama B.l juga dapat melakukan seperti apa yang dikerjakan oleh A.l dari regu A.
Hal ini merupakan taktik agar dapat berhak membunuh. Dan cara membunuh/menangkap lawan cukup dengan menyentuh anggota badan, berarti lawan yang tersentuh sudah mati dan dapat di tawan. Sebagai contoh tawanan seperti di bawah ini. Apabila tawanan lebih dari satu anak, maka mereka yang ditawan bergandengan tangan yang seolah-olah merupakan satu kesatuan yang apabila salah satu dapat dihidupkan oleh kawannya berarti semuanya dapat hidup kembali. Umpama regu A anak buahnya tertawan 4 orang maka regu B akan mudah mencapai kemenangan dengan jalan menggoda agar 1 orang regu A yang masih hidup mau keluar. Mengingat kekuatan yang sudah tidak seimbang lebih baik mempertahankan daripada keluar. Tanda kemenangannya asal salah satu anggota regunya sudah dapat melengkapi garis kemenangan.

Garis kemenangan yang dimaksud adalah batas/garis yang berada dimuka lawan di mana tempat berdirinya. Caranya dapat dari belakang dan dapat pula dari depan di mana sekiranya ada kelemahan pertahanan pihak lawan. Secara keseluruhan kemenangan dapat ditentukan dengan jumlah skor terakhir berapa kali dapat melangkahi garis kemenangan. Garis kemenangan yang dimaksud adalah batas/garis yang berada di muka lawan dimana tempat berdirinya. Caranya dapat dari belakang dan dapat pula dari depan dimana sekiranya ada kelemahan pertahanan pihak lawan. Secara mufakat menentukan untuk tahap pertama permainan dalam waktu 30 menit, berapa kali dapat melampaui batas/garis kemenangan. Sebagai contoh: Misalkan Regu A 4 kali, Regu B 5 kali, maka Regu B yang menang dan yang mendapat upah gendongan. Gendongan dilakukan dengan cara regu A menjemput di tempat Regu B, dan masing-masing anak menurut pasangannya. Dari tempat regu B menuju tempat regu A, kembali ke tempat di mana regu B dijemput, gendongan selesai. Setelah tahap pertama selesai, dapat dilanjutkan kembali seperti semula. Demikian berulang kali dapat dimulai setelah dajpat ditentukan skor terakhir dalam waktu yang telah ditentukan bersama. Dan tiap penentuan skor terakhir terus diadakan upah gendongan bagi yang kalah harus mengendong regu yang menang menurut pasangannya sendiri. Sampai anak-anak merasa puas dan lelah.

Source https://budaya-indonesia.org/baren/ https://budaya-indonesia.org/baren/
Comments
Loading...