Baju surjan / Baju Lurik Khas Jawa yang Penuh Makna dan Filosofi

0 120
Pakaian merupakan suatu kebutuhan manusia yang paling mendasar, tak heran jika ungkapan “Sandang pangan papan”, dimana sandang yang berarti pakaian berada di urutan pertama. fungsi pakaian selain untuk melindungi diri juga sebagai suatu identitas bagi pemakainya. oleh karenanya di Indonesia yang memiliki keberagaman adat suku dan budaya di setiap daerah memiliki pakaian adat masing masing senagai bentuk identitas mereka. dan salah satu pakaian yang menunjukkan identitas “kejawaan” adalah surjan.
Masyarakat Jawa dijaman sekarang memang sangat jarang ada yang memakai baju surjan. padahal pakaian yang juga disebut baju lurik ini mempunyai nilai sejarah yang panjang dan terkandung nilai nilai luhur didalamnya yang mungkin banyak dari anak muda jaman sekarang bahkan tidak mengetahui nya. dan kali ini wartajowo akan membahasa makna filosofis baju surjan khas Jawa yang mulai terlupakan.
Sejarah baju surjan atau baju lurik
Surjan berasal dari kata suraksa dan janma, artinya menjadi manusia, dan pendapat lain mengatakan surjan berasal dari kata  siro dan jan yang berarti penerang atau pelita. Menengok sejarah, rancangan baju lurik dengan garis garis lurus ini tak lepas dari peranan walisongo di tanah Jawa.  adalah sunan Kalijogo, salah satu dari 9 wali yang lekat dengan masyarakat Jawa. dalam berdakwah menyebarkan Islam, ia dikenal sebagai sosok wali yang sangat toleran dengan budaya lokal.
Melalui seni, seperti seni ukir, seni wayang kulit, gamelan, suluk dan tak ketinggalan adalah dalam seni busana. penggagas baju muslim Jawa putra Adipati Tuban yang memiliki nama asli Raden Said terinspirasi dari sebuab ayat Al-Qur’an surat Ar’af ayat 26. dari ayat Al-Qur’an tersebut Sunan Kalijogo lalu membuat  model pakaian  yang bisa membuat si pemakai selalu ingat kepada Allah SWT.

Makna Baju surjan atau baju lurik
1. Melambangkan Rukun Islam
Dalam ajaran Agama Islam, terdapat Lima rukun Islam yang wajib di Imani oleh kaum muslim. yaitu Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji. kelima rukun Islam tersebut lantas kemudian disimbolkan dalam model baju Surjan yang memiliki lima kancing baju, tiga terdapat di bagian depan dan tertutup, dua sisanya terdapat di bagian leher.
2. Ikhlas, beribadah semata mata hanya karena Allah.
Dari lima kancing baju surjan yang melambangkan rukun Islam seperti yang tekah wartajowo jelaskan diatas, tiga kancing terletak di depan dan tertutup oleh bagian kain yang lain, hal ini  melambangkan bahwa dalam rukun Islam yang tiga, yaitu Syahadat, Sholat, dan Puasa. hendaknya manusia menjalankannya dengan tulus, ikhlas tanpa ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain, semata mata beribadah hanya kepada Allah tanpa ada embel embel dilihat orang lain. Mengapa tertutup? Karena seseorang tidak butuh dilihat orang lain ketika menjalankan tiga hal tersebut.
3. Kepedulian terhadap sesama
Dua kancing lain yang ada di surja  terletak terdaoat dileher dan tidak tertutup, hal ini melambangkan bahwa dua rukun Islam selain yang di atas tadi, yakni Zakat dan Haji. dimana dalam zakat kita diharuskan untuk peduli kedapa orang lain yang lebih membutuhkan. peduli kepada sesama utamanya kepada orang yang lemah dan butuh bantuan.
4. Berbagai kepada sesama.
masih mengenai kancing yang terdaoat di leher, jika diatas tadi tekah disebutkan bahwa sakah satu kancing melambangkan rukun Islam zakat, maka yang terakhir adalah rukun Islam Haji. seperti yang kita ketahui bersama bahwa dalam tradisi Jawa, ketika akan dan setelah melaksanakan ibadah haji, umumnya mengadakan tasyakuran atau walimatus safar. hal ini tentunya mekambangkan rasa berbagi kebahagiaan kepada orang lain, dan hendaknya disaat kita sedang dalam keadaan ada, kita tidak melupakan saudara kita yang sedang tidak punya. Itulah beberapa Makna yang terkandung dalam baju surjan khas Jawa, semoga dengan ini, kita bisa mengambil pelajaran  walaupun itu dari sebuah pakaia
Source http://wartajowo.blogspot.com http://wartajowo.blogspot.com/2018/09/baju-surjana-baju-lurik-khas-jawa-yang.html
Comments
Loading...