Bagian Halaman Ketiga Kompleks dalam Keraton Kasepuhan Cirebon

0 50

Bagian Halaman Ketiga Kompleks dalam Keraton Kasepuhan Cirebon

Penjelasan rumah Adat Kasepuhan yang berasal dari provinsi Jawa Barat. Rumah adat Kasepuhan disebut juga dengna Keraton Kasepuhan. Didirikan oleh Pangeran Cakrabuana sekitar tahun 1529. Beliau merupakan putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Keraton ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati, yang merupakan keraton yang telah ada sebelumnya.

Halaman Ketiga

Ini merupakan merupakan kompleks inti Keraton Kasepuhan. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan seperti:

Taman Bunderan Dewandaru.

Memiliki arti dari namanya, bunder, yang berarti sepakat. Dewa berarti dewa dan ndaru artinya cahaya. Arti keseluruhan adalah “orang yang menerangi sesama mereka yang masih hidup dalam masa kegelapan”.

Museum Benda Kuno

Bangunan yang menghadap Timur berbentuk “E”. Terdapat 2 pintu untuk memenuhi bangunan tersebut. Di sini disimpan benda-benda kuno Keraton Kasepuhan.

Museum Kereta

Bangunan ini menghadap barat dan teat di Timur Taman Bunderan Dewandaru. Di Museum Kereta tersimpan kereta-kereta dan barang lainnya.

Tunggu Manunggal

Bangunan ini berupa batu pendek yang dikelilingi 8 buah pot bunga yang melambangkan Allah yang satu zat sifatnya.

Lunjuk

Bangunan ini menghadap Timur yang berfungsi melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.

Sri Manganti

Bangunan ini berada di Timur tugu manunggal berbentuk bujursangkar. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Bangunan ini bernama Sri Manganti karena arti sri artinya raja, manganti artinya menunggu. Sehingga artinya secara keseluruhan tempat menunggu keputusan raja.

Bangunan Induk Keraton

Bangunan induk keraton merupakan tempat aktivitas Sultan, dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, yaitu :

Kuncung dan Kutagara Wadasan.

Kuncung berupa bangunan yang digunakan parkir kendaraan sultan.

Jinem Pangrawit

Bangunan yang berfungsi sebagai serambi keraton. Nama jinem Pangrawit berasal dari kata jinem atau kajineman berarti tempat tugas dan Pangrawit berasal dari kata rawit berati kecil, halus atau bagus. Ruangan ini digunakan sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu.

Gajah Nguling

Ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tiang tuscan. Bentuk ruangan ini mengambil bentuk gajah yang sedang Nguling dengan belalainya yang bengkok. Ruangan ini dibangun oleh Sultan Sepuh IX pada tahun 1845.

Bangsal Pringgandani

Ruangan yang berada di sebelah selatan ruangan Gajah Nguling yang berfungsi sebagai tempat menghadap para Bupati Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka. Sewaktu-waktu dipakai pula sebagai tempat sidang warga keraton.

Bangsal Prabayasa

Berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayasa” berasal dari kata praba artinya sayap dan yasa artinya besar. Kata-kata tersebut mengandung arti bahwa Sultan melindungi rakyatnya dengan kedua tangannya yang besar. Pada dinding ruangan terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran berarti lambing kenegaraan. Maksudnya Sri Sultan dalam pemerintahannya harus welas asih pada rakyatnya.

Bangsal Agung Panembahan

Ruangan yang berada di selatan dan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa. Fungsinya sebagai singgasana Gusti Panembahan. Ruangan ini masih asli dan belum ada perubahan sejak dibangun tahun 1529.

Pungkuran

Merupakan ruangan serambi yang terletak di belakang Keraton dan berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji pada waktu peringatan Maulid Nabi Muhamad.

Bangunan Dapur Maulud

Berada di depan Kaputren dengan arah hadap Timur yang berfungsi sebagai tempat memasak persiapan peringatan Maulid Nabi SAW.

Pamburatan

Bangunan yang berada di selatan Kaputren. Pambuaran artinya menggurat atau mengerik. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan Maulud Nabi SAW.

Source http://dunia-kesenian.blogspot.com/ http://dunia-kesenian.blogspot.com/2014/10/rumah-adat-kasepuhan-dari-provinsi-jabar.html
Comments
Loading...