Babad Tulungagung : Perwira Mada Mencari Jejak Pangeran Bedalem dan Kyai Besari

0 332

Babad Tulungagung : Perwira Mada Mencari Jejak Pangeran Bedalem dan Kyai Besari

Pangeran Bedalem setelah mendengar berita bahwa ia dikejar oleh balantentara dari Majapahit, sangat ketakutan dan melarikan diri ke jurusan selatan. Karena takutnya maka Pangeran Bedalem bunuh diri mencebur ke sebuah kedung. Kedung tersebut kemudian dinamakan Kedung Bedalem. Oleh sebab Kadipaten Betak lowong, maka yang diangkat untuk mengganti Bedalem ialah Pangeran Kalang.

Balatentara Mojopahit disebar untuk mencari Kyai Besari. Putra Mojopahit yang bernama Pangeran Suka dalam mengadakan operasi ini kena dirunduk oleh Kasan Besari dan tergelincir masuk ke sebuah Kedung hingga meninggal dunia. Kedung tersebut lalu diberi nama Kedungsoko. Akhirnya Kyai Besari dapat diketemukan di desa Tunggul oleh Perwira Mada. Oleh sebab itu Kyai Besari tidak mau menyerah maka timbul peperangan. Kyai Besari kalah dan terkena pusaknya sendiri yaitu Korowelang. Dukuh tersebut oleh Sang Perwira diberi nama Dukuh Tunggulsari.

Karena kecakapannya menumpas pemberontakan-pemberontakan dan kekeruhan-kekeruhan konon sang perwira akhirnya diangkat menjadi Patih dan mendapat gelar Patih Gajah Mada.

Pangeran Kalang jatuh cinta kepada Rr. Inggit setelah Pangeran Kalang menjabat Adipati di Betak, maka hatinya tertawar oleh Rr. Inggit, adik dari Retno Mursodo janda alm. Pangeran Bedalem. Roro Inggit ingin dijadikan istrinya, tetapi menolak dan Retno Mursodo juga tidak menyetujuinya.

Pangeran Kalang memaksanya. Roro Inggit bersama Retno Mursodo meninggalkan Betak dan terus melarikan diri menuju ke desa Plosokandang.

Pangeran Kalang berusaha mengejarnya, tetapi kehilangan jejak, sehingga ia lalu mengeluarkan suatu maklumat, yang menyatakan bahwa barang siapa ketempatan dua orang putri dari Kadipaten Betak tetapi tidak mau lapor, maka akan dijatuhi hukuman gantung.

Kyai Plosokandang dipersalahkan

Salah seorang murid dari Kyai Pacet yang bernama Kyai Singotaruno disebut pula Kyai Plosokandang, karena berasal dari dukuh Plosokandang. Pada suatu hari ia ketemuan dua orang putri ialah Rr. Inggit dan Rr. Mursodo. Kedatangan putri Betak ini sengaja mencari pengayoman dari Kyai Plosokandang. Segala sesuatu mengenai tindakan Pangeran Kalang oleh Rr. Mursodo diceritakan semua, dan karena itu Kyai Singotaruno tidak berkeberatan untuk melindunginya, meskipun ia sendiri mengerti bahwa usahanya itu sangat berbahaya bagi jiwanya sendiri.

Adipati Kalang datang sungguh ke Plosokandang dan bertanya kepada Kyai Singotaruno apakah dia mempunyai tamu yang berasal dari Betak. Kyai Singotaruno menjawab bahwa ia tidak mempunyai tamu seorangpun. Tetapi Adipati Kalang tidak percaya, dan ingin mencarinya sendiri ke belakang. Roro Mursodo dan Roro Inggit ketika mendengar bahwa tamu yang datang itu Adipati Kalang, segera berkemas dan melarikan diri ke jurusan barat. Adipati Kalang mengetahui hal ini, dan ia sangat marah kepada Kyai Singotaruno. Kyai Singotaruno dianggap salah, dan dijatuhi hukuman gantung.

Roro Inggit Bunuh Diri
Oleh karena Roro Inggit takut bila sampai dipegang oleh Pangeran Kalang, maka ia berputus asa dan bunuh diri terjun ke dalam sebuah Beji atau Blumbang. Tempat dimana Roro Inggit bunuh diri oleh Pangeran Kalang diberi nama desa Beji. Adapun Roro Mursodo terus lari menuju ke Gunung Cilik.
Mbok Rondo Dadapan 
Ketika Pangeran Lembu Peteng perang dengan Kyai Besari, maka Roro Kembangsore dapat memisahkan diri dan lari ke desa Dadapan. Di desa tersebut ia menumpang pada seorang janda bernama mBok Rondo Dadapan. mBok Rondo mempunyai anak laki-laki bernama Joko Bodo. Lama kelamaan Joko Bodo terpikat oleh kecantikan wajah Roro Kembangsore dan ingin sekali memperistrinya, tetapi selalu ditolak secara halus oleh Roro Kembangsore.
Oleh karena Joko Bodo selalu mendesak maka pada suatu hari ketika mBok Rondo Dadapan sedang bepergian, Roro Kembangsore mengajukan permintaan. Ia bersedia dikawin, asalkan Joko Bodo mau menjalani tapa mbisu di sebuah gunung dekat desa itu. Joko Bodo menerima permintaan tadi dan pergi meninggalkan rumah. Ikatan janji itu tidak diketahui oleh mBok Rondo Dadapan. Roro Kembangsore juga pergi menuju ke Gunung Cilik. Maka ketika mBok Rondo pulang dari bepergian ia merasa terkejut, karena keadaan rumah kelihatan sepi, dan ternyata kosong. Ia pergi kesana kemari dan memanggil-manggil kedua anak tersebut. Tetapi tidak ada jawaban.
Akhirnya diketemukan Joko Bodo sedang duduk termenung menghadap kebarat. Dipanggilnya berulang kali tidak mau menjawab. Karena jengkelnya mBok Rondo lupa dan mengumpat “Bocah diceluk kok meneng bae kaya watu”.
Seketika itu juga karena kena sabda mbok Rondo, Joko Bodo berubah menjadi batu. Mbok Rondo menyadari atas keterlanjuran kata-katanya. Maka ia lalu berharap; “Besuk kalau ada ramainya zaman gunung ini saja beri nama “Gunung Bedug”, dan hingga sekarang gunung tadi disebut orang gunung budeg.
Resi Winandi  di Gunung Cilik 
Pada suatu hari Sang Patih mendengar berita bahwa di gunung cilik ada seorang pendeta wanita yang menamakan diri Resi Winadi. Yang menjadi pendeta tersebut sebetulnya ialah Roro Kembangsore. Kecuali menjadi pendeta ia juga menjadi empu. Resi Winadi mempunyai dua orang cantrik kinasih yang bernama Sarwo dan Sarwono. Pada suatu hari cantriknya yang bernama Sarwo disuruh ke Kadipaten Betak untuk mencoba kesaktian dan keampuhan pusaka yang dibuatnya sendiri untuk diadu dengan pusaka milik Pangeran Kalang.
Cara mengadunya adalah sebagai berikut :
Kalau pusakanya ditikamkan di pohon beringin daunnya rontok dan pohonnya tumbang, itulah yang menang. Selanjutnya bilamana pusaka Resi Winadi yang kalah maka Resi Winadi tunduk dan mau disuruh apa saja. Sebaliknya kalau pusaka Sang Resi menang dan Pangeran Kalang menghendaki untuk dimilikinya maka ada syaratnya ialah Pangeran Kalang supaya pergi sendiri ke Gunung Cilik untuk memintanya, tetapi bila sudah mulai naik gunung harus berjalan dengan jongkok (laku dodok), tidak diperkenankan memandang wajah sang resi sebelum diizinkan. Setelah cantrik mengerti akan tugasnya berangkatlah ia. Kecuali penugasan kepada cantrik Sarwo, Resi Winadi juga menugaskan kepada Sarwono untuk masuk ke tamansari Betak dengan menyamar, dan yang penting dapat mencabut sumbat ijuk yang berada di Tamansari. Adapun letaknya di bawah batu gilang. Setelah datang di Betak cantrik Sarwo menghadap Adipati Kalang dan mengutarakan segala maksudnya, ialah apa yang ditugaskan oleh Resi Winadi.
Pangeran Kalang menanggapi dan menyetujuinya. Masing-masing membawa senjata pusaka ke alun-alun untuk diadunya. Pusaka Betak dicoba terlebih dahulu, ialah ditikamkan pada pohon beringin kurung yang tumbuh di tengah-tengah alun-alun, tetapi tidak apa-apa. Sekarang datang gilirannya pusaka Gunung Cilik. Setelah ditikamkannya, maka semua daunnya telah rontok dan kemudian tumbanglah pohon itu.
Pangeran Kalang mengakui kekalahannya dan ingin sekali memiliki pusaka tersebut. Sarwo tidak keberatan asal Pangeran Kalang bersedia memenuhi syarat-syaratnya tadi. Pangeran Kalang tidak berkeberatan. Dengan diantar oleh cantrik Sarwo dan diikuti oleh beberapa orang prajurit pengawalnya berangkatlah Pangeran Kalang ke Gunung Cilik. Di tamansari Betak, Sarwono yang ditugaskan mencabut sumbat ijuk di bawah batu gilang dapat menemukan tempat itu. Sumbat segera dicabutnya, dan seketika itu memancarlah sumber air yang besar. Kadipaten Betak tertimpa banjir dan terendam air. Sarwono dapat menyelamatkan diri dengan naik sebuah getek.
Di Pertapaan Gunung Cilik
Waktu itu Sarwono sedang menghadap Resi Winadi untuk melaporkan tugas yang dilaksanakan. Datanglah ibunya Rr. Mursodo. Maka saling berceritalah mengenai riwayat masing-masing. Tak lupa pula disebut-sebut tentang matinya Rr. Inggit, karena dikejar-kejar oleh Pangeran Kalang. Mereka sangat bergembira dapat bertemu kembali sehingga saling mencucurkan air mata. Kemudian datanglah Patih Majapahit dengan bala tentaranya juga ingin menyatakan kebenaran berita yang diterimanya.
Pada saat itu tampaklah dari jauh kedatangan dua orang. Yang seorang berjalan jongkok dan nyembah. Tamu ini tak lain adalah Pangeran Kalang yang diantar oleh cantrik Sarwo. Setelah dekat, maka Sang Resi memberi perintah supaya Pangeran Kalang memandangnya. Alangkah terkejutnya bercampur malu. Karena yang disembah-sembah tadi adalah keponakannya sendiri. Karena malu bercampur takut maka Pangeran Kalang terus melarikan diri, yang kemudian dikejar oleh Patih Mojopahit.
Pangeran Kalang Mati Terbunuh 
Timbullah peperangan antara Prajurit pengawalnya Pangeran Kalang dengan bala tentara Mojopahit. Prajurit dari Pangeran Kalang mengalami kekalahan dan kesemuanya mati terbunuh di suatu desa, yang mana oleh Patih Gajah Mada desa tersebut diberi nama desa Batangsaren. Pangeran Kalang terus dikejar, dan oleh tentara Mojopahit dapat ditangkap dan dihujani senjata tajam, sehingga pakaiannya hancur dan badannya penuh dengan luka-luka. Tempat dimana Pangeran Kalang tertangkap ini diberi nama Cuiri. Meskipun keadaan sudah parah masih dapat melarikan diri, tetapi  tempat tertangkap untuk kedua kalinya ini diberi nama desa Kalangbret.
Adipati Kalang masih berusaha lari, tetapi karena sudah merasa lelah, lalu bersembunyi di song sungai, dan disinilah ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Tempat tersebut oleh Patih Gajah Mada dinamakan desa Ngesong. Setelah keadaan aman Patih Gajah Mada kembali ke Mojopahit. Bekas pertapaan Rr. Kembangsore hingga sekarang menjadi tempat pesadranan.
Source Babad Tulungagung : Perwira Mada Mencari Jejak Pangeran Bedalem dan Kyai Besari Sejarah Cerita Legenda Mitos
Comments
Loading...