Babad Tulungagung : Perguruan Pacet

0 193

Babad Tulungagung : Perguruan Pacet

Pada zaman Pemerintahan Majapahit hubungan antara daerah pedalaman sangat sulit, sehingga keamanan di sebelah selatan sungai Brantas tidak mudah dapat dikuasai. Sering disana-sini timbul pemberontakan. Berdirinya perguruan-perguruan sangat besar manfaatnya bagi kepentingan raja, karena selain mengajarkan ilmu, para guru pada umumnya juga merupakan mata telinga dari pada perguruan Negara. Demikian pula hubungannya dengan peguruan di dukuh Bonorowo, dekat Campurdarat yang terkenal dipimpin oleh seorang sakti bernama Kyai Pacet.

Kyai Pacet mengajarkan ilmu Joyokawijayan. Ia mempunyai murid-murid pilihan diantaranya :

  1. Pangeran Kalang dari Tanggulangin.
  2. Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak.
  3. Menak Sopal dari Kadipaten Trenggalek.
  4. Kyai Kasanbesari Tua-Tua dukuh Tunggul.
  5. Kyai Singorataruno dari dukuh Plosokandang.
  6. Kayi Sendang Gumuling dari desa Bono.
  7. Pangeran Lembu Peteng putra Majapahit (termasuk murid baru).

Pada suatu hari Kayi Pacet telah mengadakan pertemuan dengan para murid-muridnya. Pada persidangan itu selain memberikan wejangan-wejangan ilmu, Kyai Pacet menceritakan, bahwa diantara murid-muridnya ada yang mendirikan peguron, tetapi sayangnya tidak memberitahukan hal itu kepada gurunya. Kyai Kasanbesari merasa tertusuk perasaannya, dikarenakan dia sendirilah yang mendirikan peguron sebagaimana kata sindiran yang telah diucapkan dihadapannya dengan terus terang oleh sang guru tersebut.

Dengan tanpa pamit seketika itu juga Kyai Besari meninggalkan tempat pesamuan. Dengan kepergian Kyai Besari yang tanpa pamit itu Kyai Pacet lalu menyuruh dua orang muridnya yaitu Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem untuk menasehati Kyai Kasanbesari agar menyadari diri dan mau kembali ke Bono rowo untuk tetap menjadi murid dari Kyai Pacet. Apa sebab Kyai Pacet menunjuk kedu murid tersebut, karena ia mengerti bahwa Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem dengan diam-diam juga menjadi muridnya Kyai Kasanbesari. Dengan keberangkatan dua orang utusan tersebut maka Kyai Pacet berpesan pada murid-murid lainnya supaya mereka mau tetap di Bonorowo untuk melanjutkan pelajarannya, sedang Kyai Pacet akan mengadakan semadi di dalam sebuah gua. Yang ditugaskan mengawasi di luar gua adalah Lembu Peteng.

Source Babad Tulungagung : Perguruan Pacet Sejarah Cerita Legenda Mitos
Comments
Loading...