Asal usul Upacara Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Selogiri

0 243

Asal usul Upacara Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Selogiri

Asal Usul
Di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, ada suatu tradisi yang berupa upacara jamasan atau siraman pusaka Mangkunegaran. Dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran tersebut yang dijamas atau dimandikan adalah dua buah keris dan sebuah tombak peninggalan Raden Mas Said atau Mangkunegara I yang ditempatkan di Kecamatan Selogiri. Keris-keris tersebut bernama Kyai Koriwelang dan Kyai Jaladara, sedangkan tombaknya diberi nama Kyai Totok.

Kisah dibalik keberadaan benda-benda pusaka tersebut di Selogiri, berawal ketika Raden Mas Said berusaha mempertahankan daerahnya dari penjajah Belanda yang mulai masuk ke daerah sekitar Gunung Wijil. Dalam peperangan mempertahankan daerahnya itu, Raden Mas Said yang menggunakan senjata-senjata pusaka tersebut dan dibantu oleh rakyat Selogiri berhasil mengusir pasukan Belanda.

Setelah berhasil menghalau pasukan Belanda, Raden Mas Said kembali lagi ke Mangkunegaran. Keris dan tombak pusakanya pun turut pula dibawa pulang. Baru pada tahun 1935, saat Mangkunegara VII berkuasa, keris dan tombak pusaka Mangkunegara I tersebut diserahkan kepada masyarakat dan kerabatnya yang berada di Kecamatan Selogiri, sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa yang telah diberikan oleh masyarakat dan kaum kerabatnya yang ada di Selogiri. Sebagai catatan, waktu mengadakan perlawanan di Gunung Wijil, Raden Mas Said sempat mengawini gadis setempat yang bernama Rara Rubiah, salah seorang puteri dari Kasan Kamani. Setelah menjadi isteri Raden Mas Said, Rara Rubiah mengganti namanya menjadi Raden Ayu Patah Aji. Jadi, kaum kerabat di sini adalah orang-orang yang berasal dari keturunan maupun kerabat Raden Ayu Patah Aji.

Setelah menerima ketiga pusaka tadi, masyarakat Selogiri kemudian membuat sebuah bangunan berbentuk tugu berukuran 7×7 meter dan tinggi 6 meter. Pada bagian puncak tugu dibuat semacam kotak yang cukup untuk menyimpan ketiga pusaka itu. Dan, untuk menutupnya dibuatkan semacam lempengan yang terbuat dari batu1. Selain itu, setiap satu tahun sekali mereka juga mengadakan upacara jamasan atau pemandian bagi pusaka-pusaka yang dianggap keramat tersebut.

Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran adalah untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan dan ketenteraman. Bagi sebagian masyarakat Selogiri, benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan. Apabila tidak dirawat, mereka percaya “isi” yang ada di dalam benda-benda keramat tersebut akan pudar atau malah hilang sama sekali dan hanya berfungsi sebagai senjata biasa.

Selain itu, fungsi lain dari jamasan adalah agar senjata-senjata pusaka tersebut tidak lekas rapuh dan dapat bertahan lama. Pusaka yang sudah cukup tua apabila tidak dirawat dengan semestinya, maka kemungkian besar akan menjadi berkarat dan akhirnya rusak. Untuk itu, perlu dilakukan perawatan secara berkala agar apabila terdapat kerusakan dapat diketahui secara dini.

Source https://uun-halimah.blogspot.com https://uun-halimah.blogspot.com/2008/09/upacara-jamasan-pusaka-mangkunegaran-di.html
Comments
Loading...