Asal Usul Sendangbiru

0 156

Asal Usul Sendangbiru

Sendang biru terkenal sebagai tempat wisata di Kabupaten Malang. Sebuah pantai lengkap dengan pasir putih dan dermaga penangkapan ikan tuna di Malang Selatan. Asal usul Dusun Sendangbiru dari makna kata sendang (mata air) yang berwarna biru.

Sendang  berwarna biru ini menjadi salah satu sumber kehidupan warga. Semua kebutuhan dipenuhi dari air Sendangbiru terutama untuk mandi, mencuci hingga kebutuhan konsumsi setiap hari. Pakar arkeologi dan sejarah Universitas Negri Malang M. Dwi Cahyono menjelaskan jika biru bukan hanya berarti warna air yang biru, tetapi juga perlambangan kesucian.

Sendangbiru bisa diartikan mata air yang suci. Sejarah Sendangbiru ditulis Mbah Pramilir dalam kronis sejarah Dusun Sendangbiru pada 1955. Setelah Pramilir meninggal,  diteruskan anaknya Mbah Puspita. Tercatat sejarah babad Desa Sendangbiru.

Waktu itu, katanya, datang utusan dari guru injil bernama Mbah Satiti bersama murid-muridnya. Dia tinggal di “pondok dulang” atau sekarang dikenal dengan Desa Sitiarjo yang terletak di utara Dusun Sendangbiru. “Mbah Satiti itu kakek saya. Bapak dari Mbah Pramilir” ujar Mbah Puspita saat bercerita di rumahnya.

Murid-murid guru injil antara lain Mbah Tiaji, Mbah Mintah, Mbah Setrong dan Mbah Wagimen. Mereka mendapat utusan untuk mencari tempat atau mensurvei tempat yang mengarah ke perbukitan sisi timur. Tujuannya mencari sendang untuk dijadikan sebuah desa.

Sebelum berangkat, mereka meminta restu kepada pendeta S.S Devriss. Selain itu juga mengurus perizinan ke pemerintahan belanda untuk membuka lahan baru di hutan. Survei awal dilaksanakan pada 1925 mengarah ke sendang arah barat.  Sekarang menjadi Desa Pal.

Selanjutnya mereka kembali ke Sitiarjo. Berbekal surat izin mereka bertemu petugas perhutanai zaman Belanda untuk mengecek tempat hasil survei. Ternyata hasilnya tidak antara lokasi dengan tempat yang diajukan dalam surat izin tersebut. Sehingga tempat itu langsung disegel pemerintah Hindia Belanda. “Dilarang ditempati.”

Pada 1927 kembali diberangkatkan tim survei. Kali ini berjumlah sekitar 15 orang. Tim dipimpin langsung Mbah Satiti, sekaligus berniat  membuka lahan atau babat alas. Survei mengarah ke bagian timur dari sisi sebelumnya. Bertemulah dengan sebuah sendang berwarna biru.

Di dekat lokasi sendangbiru itu Mbah Satiti bersama murid-muuridnya membuka lahan pemukiman dan pekarangan. Mbah Satiti mengizinkan masyarakat tinggal di lahan itu, asal memeluk agama Kristen. Masyarakat yang tinggal mendapat jatah tanah tempat tinggal dan lahan untuk bercocok tanam.

Tokoh Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sendangbiru Pendeta Widi menegaskan jika keyakinan agama Kristen yang dianut warga Sendangbiru itu merupakan Kristen Jawi. Menganut filosofi tokoh bernama Coolen  yaitu tirtawening, yakni hidup untuk mencari sumber kehidupan.

Tokoh Coolen merupakan salah satu pendeta yang masih menganut ilmu Jawa yaitu Dewi Sri Sedono. Tidak ada larangan umat Kristen memakai blangkon, wayangan, dan kesenian lainnya. Sendangbiru menjadi magnet masyarakat setempat untuk memanfaatkan bagi kehidupan.

Lambat laun banyak ditemukan sumber air di sekitar Dusun Sendangbiru. Kini, menjadi pemukiman yang ramai meski permukiman dikelilingi hutan besar atau alas gung hingga zaman kemerdekaan. Usai selamatan bersih desa, sebagai ungkap syukur masyarakat menggelar kesenian tradisional.

Ditutup dengan pagelaran wayang dengan dalang kulit Ki Gondi Buwono. Masyarakat melebur bersama menonton kesenian tradisional dan dialog lintas umat. Sendangbiru tinggal kini juga tinggal umat Islam. Kedua umat tetap hidup rukun bersama dan berdampingan.

Source https://www.terakota.id/ https://www.terakota.id/kisah-sendangbiru-dan-melestarikan-tradisi-jawa/
Comments
Loading...